Dalam satu dekade terakhir, perfilman Indonesia mengalami pergeseran menarik dengan hadirnya komika sebagai pemeran utama. Berangkat dari panggung stand-up comedy, para komika membawa gaya bertutur yang jujur, personal, dan dekat dengan keseharian penonton.

Tak hanya menguatkan genre komedi, kehadiran mereka juga memperluas eksplorasi cerita ke ranah drama keluarga hingga horor ringan. Berikut deretan film yang menandai transformasi tersebut.

Cek Toko Sebelah (2016)

Film ini menjadi tonggak penting transisi komika ke layar lebar. Dibintangi sekaligus disutradarai Ernest Prakasa, Cek Toko Sebelah mengangkat dinamika keluarga Tionghoa dengan balutan humor yang relevan dan dialog tajam.

Film ini sukses besar secara komersial dan membuktikan bahwa komika mampu menjadi penggerak utama narasi, bukan sekadar pemanis cerita.

Baca Juga: Dari Panggung Stand Up ke Layar Lebar, Deretan Komika Indonesia yang Sukses Jadi Pemain Film

Comic 8: Casino Kings (2015)

Mengusung format ensemble, Comic 8: Casino Kings menampilkan deretan komika seperti Ernest Prakasa, Babe Cabita, Ge Pamungkas, dan Arie Kriting. Film ini memanfaatkan kekuatan chemistry antarkomika, menghadirkan komedi absurd dalam balutan aksi perampokan yang ringan dan menghibur.

Jomblo: Sebuah Komedi Cinta (2017)

Reboot dari film klasik, Jomblo versi ini menempatkan Ge Pamungkas dan Arie Kriting sebagai wajah utama. Cerita tentang persahabatan dan dinamika percintaan anak muda dikemas dengan humor segar khas generasi stand-up, membuat film ini relevan dengan penonton urban.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Film yang Bisa Temani Tahun Baru, Intip Yuk!

Mau Jadi Apa? (2017)

Berbasis kisah nyata, film garapan Soleh Solihun ini menawarkan refleksi personal tentang idealisme dan pencarian jati diri di industri hiburan. Mau Jadi Apa? memperlihatkan sisi lain komika yang lebih kontemplatif, tanpa kehilangan sentuhan humor yang membumi.

Ghost Writer (2019)

Ge Pamungkas memperluas spektrum perannya lewat Ghost Writer, film horor-komedi yang memadukan ketegangan dengan humor ringan. Film ini menegaskan bahwa komika mampu beradaptasi dengan genre non-komedi murni, sekaligus tetap mempertahankan ciri khasnya.

PSP: Gaya Mahasiswa (2019)

Mengangkat kehidupan mahasiswa dengan satire sosial yang tajam, film ini dibintangi Uus, Adjis Doa Ibu, dan Abdur Arsyad. PSP: Gaya Mahasiswa memanfaatkan pengalaman personal para komika untuk menghadirkan humor yang dekat dengan realitas kampus.

Baca Juga: Deretan Film yang Akan Tayang di Netflix Januari 2026, Salah Satunya Sore: Istri dari Masa Depan

Ngeri-Ngeri Sedap (2022)

Menjadi titik balik penting, Ngeri-Ngeri Sedap menunjukkan kedewasaan narasi film komika. Dibintangi Boris Bokir, Indra Jegel, dan Lolox, film ini mengangkat konflik keluarga lintas budaya dengan emosi yang kuat. Humor hadir secara organik, memperkuat pesan tanpa mengurangi kedalaman cerita.

Agak Laen (2024)

Fenomena besar di box office, Agak Laen menampilkan Bene Dion, Indra Jegel, Boris Bokir, dan Oki Rengga. Film ini merayakan komedi absurd khas dunia podcast dan stand-up, dengan interaksi spontan yang menjadi kekuatan utamanya.

Baca Juga: Poster AGAK LAEN: Menyala Pantiku! Terjual Rp22 Juta di JAFF 2025, Donasi untuk Korban Banjir Sumatra

Kesuksesan film ini menegaskan daya tarik komika sebagai magnet penonton massal. Berangkat dari keberhasilan film pertama mereka, Agak Laen kembali menghadirkan film Agak Laen: Menyala Pantiku! hadir menghibur di penghujung tahun 2025. Bahkan, mengukir sejarah sebagai film Indonesia yang paling banyak ditonton. 

Suka Duka Tawa (2026)

Dijadwalkan tayang pada 2026, film ini digadang-gadang menjadi biopik dunia stand-up Indonesia. Dibintangi Emon, Arif Brata, dan Gilang Bhaskara, Suka Duka Tawa mengisahkan perjalanan dan dinamika profesi komika lintas generasi, membuka babak baru eksplorasi narasi yang lebih reflektif.

Deretan film ini menandai era baru perfilman Indonesia, di mana komika tidak lagi sekadar identik dengan tawa, tetapi juga dengan cerita yang jujur dan relevan. Dari komedi absurd hingga drama keluarga, para komika berhasil memperkaya warna sinema nasional sekaligus mendorong inovasi kreatif di industri film Tanah Air.