Di tengah arus konsumsi yang semakin cepat dan mudah, konsep mindful living dan mindful consumption kian relevan. Bagi Financial Planner dari Mitra Rencana Edukasi, Mike Rini, inti dari gaya hidup ini sebenarnya sederhana, namun sering luput dari kesadaran sehari-hari.

Untuk menggambarkannya, ia mengajak kita merasakan makna dari beberapa kata kunci.

“Saya akan menyebutkan tiga kata, yaitu terarah, terkendali, terencana. Apa yang Anda rasakan?,” tanya Mike Rini, saat Media Gathering Halal Bihalal Kino Reconnect: Building Meaning in Every Family Choice, di Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Lalu, ia pun membandingkannya dengan kebalikannya.

“Berantakan, berlebihan, tidak terkendali. Apa yang Anda rasakan ketika mendengarnya?,” sambungnya.

Dari perbandingan itu, Mike menegaskan bahwa mindful living pada dasarnya adalah tentang hidup yang terarah, terencana, dan terkendali. Dalam konteks keuangan, hal ini berarti memiliki kondisi finansial yang juga berada dalam tiga prinsip tersebut.

“Kalau saya sebagai financial planner, maka ini berkaitan dengan bagaimana kita memiliki situasi keuangan yang terencana, terkendali, dan terarah,” jelasnya.

Menurut Mike, konsep ini sebenarnya bisa terlihat dari kebiasaan kecil di rumah. Ia pun lantas memberi contoh yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Coba lihat kulkas Anda, makanan dua hari lalu masih ada nggak? Atau di lemari, ada nggak baju yang sudah dibeli tapi belum pernah dipakai?” katanya.

Menurutnya, kondisi seperti ini mencerminkan konsumsi yang tidak terkendali. Dampaknya bukan hanya pemborosan barang, tetapi juga pemborosan uang.

“Kalau tidak terkendali, arahnya jadi mubazir. Dan kalau mubazir, ujung-ujungnya buang duit juga,” tegasnya.

Dikatakan Mike, salah satu praktik utama dari mindful living adalah mindful spending. Namun, Mike menekankan bahwa ini bukan berarti berhenti berbelanja sama sekali.

“Mindful spending itu bukan berarti kita tidak belanja. Tapi kita aware, kita sadar. Setiap pembelian itu intentional, ada tujuannya,” ujarnya.

Artinya, setiap keputusan pembelian melalui proses pertimbangan, bukan sekadar ikut-ikutan atau mencari validasi sosial. Dengan cara ini, konsumsi menjadi lebih bermakna dan selaras dengan tujuan hidup.

Lebih lanjut, Mike mengatakan bahwa salah satu poin penting yang sering diremehkan adalah dampak dari keputusan kecil sehari-hari.

Ia menegaskan bahwa dalam keuangan, tidak ada keputusan yang benar-benar kecil.

“Setiap keputusan itu penting. Every decision we make, terutama soal keuangan, itu punya dampak besar,” katanya.

Ia memberi contoh sederhana, seperti membeli kopi, camilan, atau jajanan kecil setiap hari. Nilainya mungkin terlihat sepele, tetapi jika diakumulasikan selama satu bulan, jumlahnya bisa signifikan.

“Jangan sampai kita meremehkan, ‘ah cuma Rp5.000 atau Rp10.000’. Kalau yang kecil-kecil ini tidak terkendali, dia bisa jadi besar,” jelasnya.

Lebih jauh, kata dia, kebiasaan meremehkan pengeluaran kecil juga berdampak secara psikologis. Kita menjadi kurang siap dalam menghadapi keputusan finansial yang lebih besar di masa depan.

Baca Juga: Kino Indonesia Soroti Pentingnya Kebiasaan Kecil dalam Mengatur Keuangan Keluarga