Selama bertahun-tahun, di antara masyarakat Asia termasuk Indonesia, terdapat sebuah kesepakatan tak tertulis antara anak dan orang tua: Orang tua memberikan bekal berupa pendidikan serta warisan harta, dan anak membalas budi dengan menjadi penyokong hidup orang tua hingga tutup usia.

Menurut CEO & President Director PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Afifa, cara pandang tersebut lahir dari kondisi sosial dan ekonomi yang sangat berbeda dengan saat ini. Pada masa ketika sistem pensiun belum berkembang luas dan akses terhadap layanan kesehatan masih terbatas, keluarga menjadi sistem perlindungan utama. Anak-anak tumbuh dengan pemahaman bahwa merawat orang tua di masa tua adalah bagian alami dari siklus kehidupan dan bentuk balas budi atas pengorbanan yang telah diberikan.

Baca Juga: Jenius by SMBC Indonesia dan MSIG Indonesia Hadirkan Asuransi Siber Personal Lines untuk Perlindungan Risiko Kejahatan Siber

“Seiring berkembangnya masyarakat, muncul aspirasi baru yang tidak menggantikan nilai kekeluargaan, tetapi memperluas maknanya. Perubahan terbesar terjadi karena satu fakta sederhana: manusia hidup lebih lama dibandingkan generasi sebelumnya. Kemajuan teknologi kesehatan, peningkatan kualitas hidup, serta akses informasi yang lebih baik membuat harapan hidup terus meningkat di banyak negara, termasuk Indonesia. Artinya, perencanaan keuangan dan kesehatan menjadi semakin penting untuk menjaga kualitas hidup di masa tua," ujar Afifa dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Menurut data World Bank, usia harapan hidup orang Indonesia terus bertambah dari sekitar 53 tahun di 1970-an, hingga mencapai 71 pada 2024. Konsekuensinya, periode “balas budi” anak semakin panjang, membatasi kemerdekaannya untuk membina hidup sendiri bersama keluarga kecilnya. Lahirlah sandwich generation, generasi pergi pagi pulang tengah malam, yang harus berjuang puluhan tahun menyokong hidup orang tuanya. Pada saat yang sama, generasi muda juga menghadapi realitas yang berbeda. Mereka memasuki dunia kerja yang lebih dinamis, menghadapi biaya hidup yang meningkat, harga properti yang semakin tinggi, kebutuhan pendidikan yang terus berkembang, serta tuntutan untuk terus meningkatkan keterampilan di tengah perubahan ekonomi yang cepat

Untunglah, paham tradisional yang menjebak ini mulai bergeser: Kini kemandirian orang tualah yang dianggap sebagai warisan paling berharga bagi anak-anaknya. Asia Care Survey 2026 yang digagas Manulife dan melibatkan 9.000 responden di Asia termasuk Indonesia, menemukan bahwa 93% responden Indonesia meyakini kemandirian merupakan warisan paling bermakna yang dapat mereka tinggalkan bagi keluarga. Angka ini merupakan yang tertinggi di Asia dan berada jauh di atas rata-rata regional sebesar 82%.

“Saat ini tumbuh paham modern yang mengedepankan kemandirian orang tua dan kebebasan anak menjalani hidup mereka sebagai warisan. Saat orang tua dapat hidup mandiri di masa tuanya, generasi penerus bebas untuk membuat pilihan hidup tanpa beban karena harus berperan sebagai penyokong hidup orang tua di masa tua," ujar Afifa menjelaskan.

Tak lagi berfokus pada warisan berupa harta yang datang sepaket dengan tuntutan balas budi dari anak-anaknya, orang tua di Asia termasuk Indonesia kini mendefinisikan ulang arti pensiun. Hidup tidak lagi terbagi tegas antara fase bekerja dan berhenti, melainkan menjadi spektrum yang lebih cair, di mana makna dan relevansi terus dipelihara. Di sinilah kesehatan fisik dan kemapanan finansial menjadi modal untuk terus melaju melampaui batasan usia pensiun.

Tentunya untuk dapat mengaplikasikan niat mulia ini tak cukup punya niat. Harus ada dana yang dirintis melalui perencanaan dan disiplin finansial yang diterapkan sedini mungkin. Kemandirian orang tua dan kebebasan generasi penerus perlu dipersiapkan, direncanakan, dan dibangun dari waktu ke waktu.

"Melalui solusi investasi dan edukasi yang berkelanjutan, MAMI berkomitmen membantu masyarakat Indonesia membangun fondasi finansial yang mendukung kemandirian jangka panjang," tandasnya.