Bagi banyak orang, memelihara kucing bukan hanya soal memiliki hewan peliharaan di rumah. Tingkahnya yang lucu, suara dengkurannya, hingga kebiasaannya mengikuti pemilik ke berbagai sudut rumah sering kali menjadi bagian dari keseharian.

Di balik tingkah menggemaskannya, keberadaan kucing juga kerap dikaitkan dengan berbagai aspek kesehatan, baik fisik maupun psikologis. Sejumlah penelitian telah meneliti hubungan antara kepemilikan hewan peliharaan, interaksi dengan kucing, kondisi kardiovaskular, hingga rasa kesepian.

Meski demikian, sebagian besar penelitian mengenai manfaat kucing masih bersifat observasional atau melibatkan jumlah peserta yang terbatas. Artinya, temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan, tetapi belum tentu membuktikan bahwa memelihara kucing secara langsung menyebabkan seseorang menjadi lebih sehat.

Baca Juga: Terinspirasi Kucing, Bata Hadirkan Kenyamanan bagi Pekerja Urban dalam Koleksi Office Shoes-nya

Lantas, apa saja manfaat yang dikaitkan dengan memelihara kucing?

1. Dapat Membantu Menciptakan Efek Relaksasi

Hari yang melelahkan terkadang cukup ditutup dengan duduk sambil mengelus kucing. Interaksi sederhana tersebut dapat memberikan rasa nyaman dan menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi sebagian orang.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Animals pada 2023 secara khusus mengamati efek interaksi dengan kucing terhadap kondisi psikologis dan fisiologis pemiliknya. Penelitian yang melibatkan 32 pemilik kucing di Jepang tersebut mengukur sejumlah indikator, termasuk kortisol, oksitosin, detak jantung, dan variabilitas detak jantung.

Hasilnya menunjukkan bahwa interaksi dengan kucing berkaitan dengan perubahan kondisi emosional dan respons fisiologis pemilik. Namun, peneliti juga menemukan bahwa mekanisme manfaat interaksi manusia-kucing tidak sesederhana sekadar mengurangi stres dan menyebut perlunya penelitian dengan sampel yang lebih besar.

Baca Juga: Rayakan Cat International Day, Kucingku Gelar Aksi Peduli Kucing Jalanan di Berbagai Kota

Temuan yang lebih baru juga menunjukkan bahwa interaksi dengan hewan peliharaan secara umum berkaitan dengan suasana hati yang lebih positif. Studi yang dipublikasikan pada 2026 terhadap 188 pemilik anjing dan kucing menemukan bahwa interaksi dengan hewan peliharaan dikaitkan dengan peningkatan emosi positif dan penurunan emosi negatif. Namun, penelitian tersebut tidak menemukan bukti bahwa interaksi dengan hewan secara konsisten berfungsi sebagai mekanisme untuk meredam dampak stres.

Dengan demikian, berada di dekat kucing atau bermain dengannya dapat menjadi bagian dari aktivitas yang menyenangkan, tetapi efeknya terhadap stres dapat berbeda pada setiap orang.

2. Memiliki Hubungan dengan Kesehatan Jantung

Selain itu, manfaat memelihara kucing juga pernah dikaji dari sisi kesehatan kardiovaskular. Salah satu penelitian yang cukup sering dikutip adalah studi terhadap peserta Second National Health and Nutrition Examination Study Mortality Follow-up Study. Penelitian tersebut mengikuti ribuan peserta dalam jangka panjang dan menganalisis hubungan kepemilikan kucing dengan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang pernah memiliki kucing memiliki risiko kematian akibat infark miokard yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak pernah memiliki kucing. Namun, efek tersebut tidak ditemukan secara konsisten pada semua kategori kepemilikan kucing, dan penelitian tersebut tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.

Penelitian lain terhadap 6.632 orang dewasa di Amerika Serikat berusia 40 tahun ke atas juga menemukan bahwa kepemilikan kucing berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah. Meski demikian, peneliti menekankan bahwa penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui apakah hubungan tersebut bersifat kausal.

Baca Juga: Beda dengan Harimau, Alshad Ahmad Luncurkan Makanan Kucing Bernutrisi Tinggi

Tinjauan sistematis mengenai kepemilikan kucing dan anjing dengan penyakit kardiovaskular juga menunjukkan hasil yang beragam. Karena itu, memelihara kucing tidak dapat dianggap sebagai cara untuk mencegah serangan jantung atau stroke.

Kesehatan jantung tetap perlu dijaga melalui kebiasaan yang telah terbukti, seperti rutin beraktivitas fisik, menjaga pola makan, tidak merokok, cukup tidur, dan melakukan pemeriksaan kesehatan.

3. Paparan Hewan Sejak Dini Berkaitan dengan Risiko Alergi dan Asma

Bagi keluarga yang memiliki anak, keberadaan kucing juga menarik untuk dilihat dari sisi perkembangan sistem kekebalan tubuh.

Konsep Hygiene Hypothesis menjelaskan bahwa paparan terhadap berbagai mikroorganisme sejak usia dini diduga dapat memengaruhi perkembangan sistem imun. Anak yang tumbuh bersama hewan peliharaan dapat mengalami paparan terhadap dander, atau serpihan kulit hewan, serta berbagai mikroorganisme yang terdapat di lingkungan tempat tinggal.

Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara paparan hewan sejak dini dengan risiko alergi dan gangguan pernapasan. Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam European Archives of Oto-Rhino-Laryngology pada 2024 menganalisis 14 penelitian mengenai paparan hewan peliharaan pada anak.

Dalam analisis tersebut, prevalensi asma pada anak yang terpapar kucing dan anjing masing-masing sebesar 16,4 persen dan 12,5 persen. Sementara itu, prevalensi rinitis alergi pada anak yang terpapar kucing mencapai 24,9 persen.

Penelitian lain berupa tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap 34 studi kohort justru menemukan bahwa paparan kucing dan anjing dikaitkan dengan risiko asma yang lebih rendah dalam sejumlah analisis. Untuk paparan kucing, risiko relatif asma tercatat 0,88 dibandingkan kelompok yang tidak terpapar.

Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara kucing, alergi, dan asma cukup kompleks. Faktor genetik, jenis paparan, usia anak, kondisi lingkungan, serta riwayat kesehatan juga dapat berpengaruh.

Karena itu, memelihara kucing tidak dapat dianggap sebagai cara pasti untuk mencegah alergi atau memperkuat sistem kekebalan tubuh anak.

4. Dapat Membantu Mengurangi Rasa Kesepian

Bagi seseorang yang lebih sering menghabiskan waktu sendirian di rumah, kehadiran kucing dapat membuat suasana terasa berbeda. Ada hewan yang menunggu saat pulang, menemani ketika bekerja, atau sekadar berada di dekat pemilik ketika sedang bersantai.

Kucing memang tidak dapat menggantikan hubungan sosial dengan manusia. Namun, interaksi sehari-hari dengan hewan peliharaan dapat memberikan bentuk companionship atau rasa memiliki teman.

Hubungan antara kepemilikan hewan peliharaan dan rasa kesepian juga telah diteliti secara sistematis. Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology pada 2022 menganalisis 24 penelitian mengenai kepemilikan hewan peliharaan, kesepian, dan isolasi sosial.

Pada kelompok orang dewasa, sejumlah penelitian dalam tinjauan tersebut menemukan bahwa kepemilikan hewan peliharaan berkaitan dengan tingkat isolasi sosial yang lebih rendah. Sementara itu, penelitian mengenai kesepian menunjukkan hasil yang lebih beragam, meski beberapa studi setelah pandemi COVID-19 menunjukkan kemungkinan adanya hubungan dengan tingkat kesepian yang lebih rendah.

Rutinitas seperti memberi makan, bermain, membersihkan tempat tinggal, hingga memperhatikan kondisi kucing juga membuat pemilik memiliki aktivitas yang dilakukan secara rutin.

5. Mendukung Suasana Hati dan Kesejahteraan Emosional

Merawat kucing dapat memberikan rutinitas yang membuat hari-hari terasa lebih teratur. Mulai dari memberi makan, mengganti air minum, membersihkan litter box, hingga meluangkan waktu untuk bermain merupakan aktivitas sederhana yang dilakukan secara rutin.

Interaksi dengan hewan juga dapat memberikan pengalaman emosional yang positif. Studi tahun 2026 terhadap pemilik anjing dan kucing menemukan bahwa interaksi dengan hewan peliharaan berkaitan dengan peningkatan positive affect atau emosi positif serta penurunan negative affect atau emosi negatif dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa manfaat emosional tidak selalu berarti hewan peliharaan dapat menjadi "peredam stres" dalam setiap situasi. Pengaruh interaksi dengan hewan dapat dipengaruhi oleh jenis hewan, situasi, serta kondisi psikologis pemilik.

Karena itu, memelihara kucing dapat menjadi salah satu sumber kenyamanan dan aktivitas positif, tetapi bukan pengganti terapi maupun pengobatan untuk gangguan kesehatan mental. Jika masalah kesehatan mental berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, bantuan dari tenaga profesional tetap diperlukan.

Memelihara kucing memang tidak secara otomatis membuat seseorang terbebas dari stres, penyakit jantung, alergi, maupun masalah kesehatan mental. Namun, penelitian menunjukkan adanya hubungan antara interaksi manusia dengan hewan peliharaan dan sejumlah aspek kesehatan serta kesejahteraan.