Diagnosis kanker endometrium sering kali menjadi kekhawatiran besar bagi perempuan usia produktif, terutama mereka yang belum memiliki anak. Namun, kemajuan teknologi medis kini memberikan harapan baru. Dalam kondisi tertentu, pasien kanker endometrium masih memiliki peluang menjalani program kehamilan melalui terapi yang mempertahankan kesuburan.
Hal itu disampaikan dr. Reni Amdaya Julianti, Sp.OG, Subsp.Onk, dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan onkologi ginekologi RS Pondok Indah, dalam Media Discussion bertajuk Bagaimana Mengenali Gejala Kanker Endometrium dan Pilihan Tata Laksana Terkini di The Acre, Menteng, Jakarta.
Menurut dr. Reni, kanker endometrium merupakan kanker yang menyerang lapisan paling dalam rahim, yaitu endometrium. Penyakit ini tidak lagi hanya ditemukan pada perempuan usia lanjut.
Baca Juga: Kanker Endometrium Kini Mengintai Perempuan Muda, Kenali Gejala Awal dan Cara Mencegahnya
"Sekarang kami mulai menemukan pasien dengan usia yang lebih muda. Pasien termuda yang pernah saya tangani berusia 25 tahun," ujar dr. Reni.
Peluang Hamil Masih Terbuka
Dr. Reni menjelaskan bahwa tidak semua pasien harus langsung menjalani operasi pengangkatan rahim. Pada pasien dengan kondisi tertentu, dokter dapat memberikan terapi fertility sparing atau terapi mempertahankan kesuburan menggunakan obat hormonal, suntikan hormon, maupun IUD hormonal.
Namun, terapi tersebut hanya dapat diberikan kepada pasien yang memenuhi beberapa syarat, yakni berusia di bawah 40 tahun, kanker masih berada pada stadium IA, sel kanker memiliki derajat keganasan rendah, serta belum menyebar ke otot rahim.
"Terapi ini hanya diberikan pada pasien yang memenuhi kriteria tertentu dan harus dipantau secara berkala," jelasnya.
Baca Juga: 7 Makanan yang Perlu Dihindari Penderita Endometriosis
Selama menjalani terapi, pasien akan dievaluasi setiap tiga hingga enam bulan melalui pemeriksaan USG, histeroskopi, atau biopsi. Jika respons terapi baik, pasien dianjurkan segera menjalani program kehamilan sebelum menentukan terapi lanjutan.
Kenali Gejalanya Sejak Dini
Menurut dr. Reni, keberhasilan pengobatan sangat bergantung pada deteksi dini. Sayangnya, banyak perempuan menganggap gejala awal kanker endometrium sebagai gangguan menstruasi biasa.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain perdarahan menstruasi yang lebih banyak atau lebih lama dari biasanya, perdarahan di luar siklus haid, perdarahan setelah menopause, keputihan bercampur darah, hingga nyeri saat berhubungan seksual.
"Perdarahan yang tidak normal, terutama setelah menopause, sebaiknya tidak dianggap sebagai hal biasa dan perlu segera diperiksakan," katanya.
Pada stadium awal, kanker endometrium memiliki prognosis yang baik. Dr. Reni menyebut angka ketahanan hidup lima tahun pada pasien stadium IA dapat mencapai sekitar 90% apabila ditangani sejak dini.
Gaya Hidup Berperan Penting
Selain faktor hormonal, gaya hidup menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko kanker endometrium. Obesitas, diabetes, hipertensi, kurang aktivitas fisik, serta pola makan tinggi gula dan karbohidrat olahan dapat meningkatkan risiko penyakit ini.
Menurut dr. Reni, jaringan lemak dapat menghasilkan hormon estrogen yang memicu penebalan lapisan endometrium. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya perubahan sel menjadi ganas.
Karena itu, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, memperbanyak konsumsi makanan berserat, serta membatasi asupan gula dan tepung menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko kanker endometrium.
"Makanan dan olahraga berperan menyeimbangkan hormon dalam tubuh. Pola hidup sehat bukan hanya membantu mencegah kanker endometrium, tetapi juga mengurangi risiko kekambuhan setelah pengobatan," tutup dr. Reni.