Pengamat politik Hendri Satrio memberikan respons keras terkait wacana Badan Gizi Nasional (BGN) yang akan mensosrtir murid dari keluarga kaya dan sangat kaya tidak akan menerima manfaat dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Adapun respons tersebut disampaikan dalam akun X pribadinya, seperti dikutip, Kamis (16/7/2026).

"Ada wacana dari BGN, murid kaya dan kaya sekali dalam sekolah yang sama tidak akan dapat MBG. Salah ini menurut saya," cuitnya.

Baca Juga: BGN Stop Bangun SPPG, Mitra MBG Diguyur Kerugian Rp8,7 Triliun

Baca Juga: Korupsi MBG hingga Penggeledahan Kortas Tipikor, Penegakan Hukum Atau Saling Tikam Polri-TNI- Kejagung?

Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan pengelompokan berdasarkan status ekonomi di lingkungan sekolah. 

Ia menilai jika kebijakan tersebut diterapkan, negara justru menciptakan perbedaan kelas di antara peserta didik.

"Kalau ini diberlakukan, negara sudah membedakan 'kelas' warganya. Bisa terjadi gesekan antarkelas yang runcing," tambahnya.

Terkait itu, pihaknya mengingatkan jika sehak SD hingga SMA, penggunaan seragam sekolah dan sepatu hitam diterapkan untuk menghilangkan perbedaan.

"Kenapa kita SD, SMP, SMA dikasih seragam, harus sepatu hitam? Agar tidak ada pembeda antara anak kaya dan anak miskin," ujarnya.

Karena itu, pihaknya menyarankan agar pemerintah mengevaluasi skema tersebut. Sebaliknya, ia menyarankan pemerintah untuk fokus kepada daerah yang benar-benar membutuhkan.

"Semestinya MBG konsentrasi ke daerah miskin yang memerlukan atau melakukan perubahan skema pemberian MBG," tukasnya.

Sebelumnya, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Agustina Arumsari mengungkapkan, pemerintah tengah mengkaji ulang sasaran penerima MBG.

Ia mengatakan salah satu opsi yang dibahas dalam rapat yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto adalah tidak lagi memberikan manfaat kepada siswa yang berasal dari keluarga pada kelompok ekonomi mampu.

"Tadi ada diskusi-diskusi di dalam bahwa untuk mereka yang katakanlah ada di desil 8, 9, 10 yang mapan, kaya, kaya sekali, itu memang tidak akan diberikan lagi," kata Agustina.