Growthmates, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berkembang jauh lebih cepat dibandingkan teknologi sebelumnya. Di balik potensi besarnya untuk mengubah dunia, AI juga memunculkan pertanyaan besar mengenai masa depan umat manusia. Salah satu sosok yang paling vokal membahas isu tersebut adalah Elon Musk.
Pendiri Tesla, SpaceX, dan xAI ini memiliki posisi yang unik. Di satu sisi, ia merupakan salah satu tokoh yang aktif mengembangkan teknologi AI.
Di sisi lain, ia juga menjadi salah satu pengingat paling keras mengenai risiko yang mungkin ditimbulkan AI apabila berkembang tanpa pengawasan yang memadai.
Dalam wawancara panjang yang dikutip dari The Economist, Selasa (28/7/2026), Musk memaparkan sejumlah pandangan yang dinilai paradoksal.
Ia meyakini AI akan membawa lompatan teknologi yang luar biasa sekaligus berpotensi menciptakan ancaman eksistensial bagi manusia.
Musk memperkirakan kemampuan AI akan melampaui kecerdasan manusia dalam lima tahun ke depan dan berkembang jauh lebih pesat dalam satu dekade.
Menurutnya, ketika AI mencapai tingkat kecerdasan tersebut, manusia mungkin tidak lagi menjadi pihak yang memegang kendali.
Ia bahkan membandingkan hubungan manusia dengan AI di masa depan seperti hubungan manusia dengan simpanse. Jika AI benar-benar menjadi jauh lebih cerdas, menurut Musk, tidak ada jaminan bahwa teknologi tersebut akan terus mengikuti arahan manusia.
Pandangan tersebut didasarkan pada perkembangan AI yang dinilai semakin eksponensial. Kemampuan model AI terus meningkat dalam waktu singkat, sementara robot berbasis AI diperkirakan akan semakin banyak mengambil alih berbagai aktivitas di dunia nyata.
Meski demikian, Musk tetap melihat AI sebagai teknologi yang mampu menghasilkan inovasi besar. Ia percaya AI akan melahirkan perusahaan-perusahaan baru, mempercepat penemuan ilmiah, serta meningkatkan produktivitas di berbagai sektor.
Namun, manfaat tersebut harus diimbangi dengan upaya memastikan AI tetap aman dan selaras dengan kepentingan manusia.
Baca Juga: CEO OpenAI Bagikan Pandangannya tentang Masa Depan AI dan Risikonya
Karena itu, Musk mengusulkan agar para pengembang AI terbesar di Amerika Serikat dan China saling menguji model AI yang mereka kembangkan.
Menurutnya, kolaborasi semacam ini diperlukan untuk memastikan AI dibangun dengan nilai-nilai yang mengutamakan kebenaran serta kesejahteraan umat manusia. Ia juga menilai pemerintah perlu memiliki kewenangan untuk melakukan intervensi apabila muncul penyalahgunaan teknologi oleh pihak tertentu.
Meski gagasan tersebut terdengar menjanjikan, banyak pihak mempertanyakan efektivitasnya. Kritik utama yang muncul adalah usulan Musk dinilai masih terlalu bergantung pada segelintir perusahaan teknologi besar tanpa menjelaskan secara rinci bagaimana mekanisme pengawasan global dapat diterapkan secara adil dan transparan.
Pandangan Musk juga memunculkan paradoks lain. Ia beberapa kali menyatakan bahwa AI pada akhirnya akan menciptakan dunia dengan kelimpahan yang hampir tak terbatas.
Dalam kondisi tersebut, barang dan jasa akan tersedia dalam jumlah melimpah sehingga uang diperkirakan kehilangan perannya sebagai alat tukar.
Namun, gagasan tersebut dinilai masih sulit diwujudkan. Berbagai sumber daya seperti energi, bahan baku, lahan, maupun aset bernilai tinggi tetap memiliki keterbatasan.
Selain itu, belum ada penjelasan yang jelas mengenai bagaimana dunia akan melewati masa transisi ketika otomatisasi menggantikan banyak pekerjaan, sementara sistem ekonomi dan sosial masih bergantung pada aktivitas manusia.
Para pengamat juga menilai bahwa perubahan menuju era AI berpotensi memicu gejolak sosial, ketimpangan ekonomi, hingga tantangan politik yang tidak mudah diselesaikan.
Karena itu, optimisme mengenai masa depan AI perlu dibarengi dengan perencanaan yang matang agar manfaat teknologi tersebut dapat dirasakan secara luas.
Nah Growthmates, terlepas dari berbagai kontroversinya, Elon Musk tetap menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perkembangan AI.
Rekam jejaknya dalam mendorong inovasi di bidang mobil listrik, roket, dan komunikasi satelit membuat pandangannya mengenai masa depan teknologi sulit untuk diabaikan.
Namun, satu hal yang menjadi perhatian banyak kalangan adalah bahwa perlombaan membangun AI tampaknya berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan upaya mempersiapkan masyarakat menghadapi dampaknya.
Di sinilah letak tantangan terbesar, bukan sekadar menciptakan AI yang semakin pintar, tetapi memastikan teknologi tersebut tetap berada dalam kendali manusia dan dikembangkan secara bertanggung jawab.
Baca Juga: Elon Musk Janji Bikin Film The Odyssey Pakai AI Sebelum 2026 Berakhir