Wakil Presiden ke-13 RI, Ma'ruf Amin, menegaskan pentingnya menjadikan industri halal sebagai fondasi peradaban ekonomi global baru. Ia menilai, kolaborasi industri halal bukan lagi sekadar kerja sama ekonomi biasa, melainkan sebuah aliansi strategis yang menyatukan kekuatan ekonomi dan peradaban dunia.
“Hari ini kita tidak sekadar bertemu, kita bersatu dalam satu tekad untuk menjadikan industri halal sebagai proses peradaban ekonomi dunia yang baru,” tutur Ma’ruf Amin, dalam sambutannya di acara MoreFood Expo Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Lebih lanjut, Ma’ruf menegaskan bahwa dirinya datang bukan untuk membicarakan sekat pemisah antarnegara, melainkan membangun jembatan kolaborasi melalui industri pangan halal.
“Saya tidak datang ke forum ini untuk berbicara tentang tembok pemisah. Saya datang untuk meruntuhkan sekat-sekat lama dan membangun jembatan emas antara dua kawasan, dua kekuatan ekonomi, dan dua peradaban besar melalui industri pangan halal,” katanya.
Menurutnya, konsep halal memiliki makna universal yang melampaui batas geografis maupun kepentingan ekonomi semata. Halal, kata dia, berbicara tentang nilai, keberkahan, keamanan, dan keadilan.
“Ketika kita berbicara tentang halal, kita berbicara tentang nilai, teknik, keberkahan, keamanan, dan keadilan. Nilai-nilai ini adalah bahasa universal yang melampaui batas peta,” tutur Ma’ruf Amin.
Ia juga menilai dunia saat ini tengah memasuki fase transformasi besar, mulai dari perpindahan sistem hingga perubahan peradaban global yang menempatkan industri halal sebagai salah satu poros utama.
Dalam kesempatan tersebut, Ma’ruf Amin memaparkan tiga pilar utama untuk mendorong kejayaan industri halal Indonesia di tingkat global.
Pilar pertama, kata dia, adalah menjadikan Indonesia sebagai benchmark kolaborasi halal dunia. Ia menegaskan bahwa Indonesia ingin menghadirkan standar baru dalam industri halal global, bukan hanya standar teknis, tetapi juga standar peradaban.
“Indonesia ingin melahirkan new gold standard, sebuah tolok ukur peradaban dalam kolaborasi halal,” ujarnya.
Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa kerja sama halal harus dibangun melalui harmonisasi standar, pengakuan sertifikasi halal antarnegara, hingga penguatan rantai pasok yang transparan dan terintegrasi.
Pilar kedua, lanjut dia, adalah membangkitkan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi halal nasional.
Menurut Ma’ruf Amin, industri halal tidak boleh hanya dinikmati korporasi besar, tetapi juga harus menjadi ruang tumbuh bagi pelaku usaha kecil dan menengah.
“UMKM merekalah yang menjaga resep turun-temurun. Merekalah pemilik autentisitas kuliner halal Nusantara,” katanya.
Baca Juga: MoreFood Expo Indonesia 2026 Jadi Jembatan Bisnis F&B Lokal ke Pasar Internasional