Karena itu, kata Ma’ruf Amin, pemerintah terus menghadirkan berbagai kemudahan, mulai dari sertifikasi halal self-declared, akses pembiayaan syariah, hingga perluasan pasar global melalui digitalisasi dan diplomasi merek.
“Kita tidak ingin UMKM hanya menjadi penonton. Kita jadikan mereka pemain utama di panggung dunia,” tegasnya.
Dan terakhir, pilar ketiga adalah memperkuat ekosistem dan budaya halal sebagai identitas bangsa. Ma’ruf Amin menilai, makanan halal di Indonesia bukan sekadar produk konsumsi, melainkan bagian dari budaya dan tradisi masyarakat.
“Makanan halal di Indonesia bukan sekadar lauk. Ia adalah napas budaya, doa yang mengalir dalam setiap suapan,” ujarnya.
Ia menyebut berbagai kuliner khas Nusantara seperti rendang hingga sate Madura sebagai bukti bahwa nilai halal telah menyatu dengan tradisi, kesalehan sosial, dan kearifan lokal masyarakat Indonesia.
Menurutnya, penguatan sistem keamanan pangan nasional dan produksi pangan berkelanjutan juga menjadi bagian dari upaya membawa identitas budaya Indonesia ke meja makan dunia.
“Kita tunjukkan bahwa produk halal Indonesia adalah produk yang bersih, berkah, dan berkelas,” katanya.
Ma’ruf Amin juga mengajak investor global untuk melihat Indonesia sebagai pusat pertumbuhan industri halal dunia. Ia menilai Indonesia memiliki modal besar, mulai dari populasi Muslim terbesar di dunia hingga ekosistem halal yang dinamis dan stabilitas nasional yang kuat.
“Investasi di Indonesia bukan sekadar cuan. Ia adalah investasi keberlanjutan, investasi etika, dan investasi masa depan,” tukasnya.
Di akhir sambutannya, Ma’ruf Amin mengajak pun seluruh pihak meninggalkan ego sektoral dan pola kerja lama yang lambat serta penuh kecurigaan. Ia menyerukan lahirnya ekosistem halal global yang inklusif, inovatif, dan berintegritas.
“Mari kita jadikan Indonesia sebagai episentrum revolusi halal dunia,” pungkasnya.
Baca Juga: MoreFood Expo 2026 Jadi Momentum Baru Akses Global Industri F&B di Tengah Dinamika Rantai Pasok