dr. Vardian melanjutkan, kondisi tersebut membuat konsumsi makanan menjelang tidur perlu diperhatikan, terutama dari sisi jumlah kalori yang masuk.
"Sehingga kalau kita makan terlalu dekat dengan jam tidur kita, maka tubuh sulit untuk mengontrol gula darah. Akibatnya apa? Ya, over calorie dan akan disimpan menjadi lemak," lanjutnya.
Lebih jauh, dr. Vardian mengatakan bahwa pembahasan mengenai pola makan saat ini tidak hanya berfokus pada jenis dan jumlah makanan, tetapi juga waktu seseorang mengonsumsinya.
Hal tersebut sejalan dengan berkembangnya penelitian mengenai time-restricted eating, yaitu pola makan yang membatasi waktu seseorang mengonsumsi makanan dalam jangka waktu tertentu setiap hari.
"That's why sekarang banyak penelitian terbaru tentang time restricted eating. Ini bukan hanya perkara apa yang kita makan, tapi kapan kita makan yang mempengaruhi metabolisme kita," ujar dr. Vardian.
Meski demikian, aturan sederhana yang ia tekankan bukan berarti seseorang harus menghilangkan makan malam. Kuncinya adalah memberikan jeda yang cukup antara makan terakhir dan waktu tidur.
"Jadi aturan sederhananya adalah berikan jeda 3 jam sebelum kalian tidur," katanya.
Dengan demikian, kata dia, waktu makan terakhir dapat disesuaikan dengan jadwal tidur masing-masing. Jika seseorang terbiasa tidur pukul 22.00, misalnya, maka makan terakhir dapat dilakukan sekitar pukul 19.00. Sementara jika tidur pukul 21.00, makan terakhir dapat dilakukan sekitar pukul 18.00.
"Jadi kalau semisal tidur jam 10, ya berarti terakhir makan jam 7. Jam 9, terakhir makan jam 6. Karena dalam metabolisme timing sama pentingnya dengan apa isi piring kalian," tandasnya.
Baca Juga: Benarkah Makan Malam Bisa Bikin Gemuk dan Obesitas? Dokter Ungkap Faktanya