Fenomena masyarakat 'makan tabungan' dinilai berpotensi terjadi di tengah gejolak ekonomi saat ini. Salah satu indikator yang bisa mencerminkan fenomena makan tabungan yakni menurunnya jumlah simpanan masyarakat di bank. Lantas, apakah hal ini sudah terjadi?

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, memastikan bahwa hingga saat ini tidak ada sinyal fenomena makan tabungan. Hal tersebut mempertimbangkan pemantauan LPS terhadap data agregat dari sekitar 696 juta rekening perbankan yang masih mencatatkan pertumbuhan secara tahunan.

Dari jumlah tersebut, LPS mencatat simpanan di bawah Rp100 juta mengalami kenaikan 5,16% secara tahunan. Bahkan, simpanan di bawah Rp5 juta mengalami pertumbuhan lebih tinggi hingga 7,36%. 

Baca Juga: Buka-Bukaan Purbaya: Program MBG Sudah Habiskan Rp101,1 Triliun Dana APBN

"Secara agregat kami sampaikan bahwa simpanan di bawah Rp100 juta tumbuh 5,16% dan di bawah Rp5 juta tumbuh 7,36%. Jadi kami melihat ada pertumbuhan secara year on year," ungkap Anggito dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan di kantor LPS, Jakarta, Senin (3/8/2026).

Baca Juga: Disebut Masuk Bursa Calon Gubernur BI, Menkeu Purbaya Pilih Bersyukur

Anggito menambahkan, pertumbuhan simpanan tidak hanya tercermin dari kelompok nasabah kecil, tetapi juga nasabah dengan simpanan di atas Rp5 miliar. LPS mencatat, secara tahunan simpanan di atas Rp5 miliar tumbuh 15,44% dan masih menjadi penyumbang utama pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK).

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pertumbuhan yang terjadi di seluruh lapisan simpanan mempertegas klaim tidak adanya indikasi masyarakat makan tabungan di tengah tekanan ekonomi saat ini.

"Data kami mengatakan bahwa seluruh lapisan secara agregat simpanan itu tumbuh. Tentu secara individu ada yang menggunakan tabungan, ada yang menambah tabungan. Tetapi secara agregat simpanan masih bertumbuh," tegasnya lagi.