Dan, untuk membantu sekolah menerjemahkan kebijakan menjadi praktik nyata, Ries Sansani membagikan tiga langkah awal yang dapat diterapkan:

1. Mengutamakan keamanan sensorik

Rasa aman tidak hanya berarti bebas dari kekerasan, tetapi juga bebas dari tekanan sensorik. Sekolah dapat menyediakan ruang tenang atau memperbolehkan penggunaan headphone peredam suara bagi anak yang membutuhkan.

2. Berpindah dari kepatuhan ke kolaborasi

Alih-alih langsung menghukum perilaku yang dianggap tidak biasa, guru dapat mencoba memahami pesan di balik perilaku tersebut. Lingkungan belajar perlu menyesuaikan kebutuhan anak, bukan sebaliknya.

3. Mengenalkan keragaman cara berpikir kepada siswa

Perundungan dapat berkurang ketika siswa memahami perbedaan. Anak-anak dapat diajarkan bahwa setiap otak bekerja secara berbeda, ada yang seperti Windows, ada yang seperti Mac. Dari pemahaman ini, empati dapat tumbuh secara alami.

Bagi banyak orang tua, menemukan lingkungan yang benar-benar aman bagi anak adalah perjalanan yang tidak mudah. Wina Natalia, figur publik sekaligus ibu dari anak neurodivergent, mengungkapkan kekhawatiran yang sering dirasakan orang tua:

“Sebagai orang tua, ketakutan terbesar bukan hanya anak di-bully, tetapi saat anak dipaksa mengubah dirinya agar bisa diterima. Ketika menemukan lingkungan yang menghargai neurodiversity, dampaknya sangat besar bagi keluarga. Kami tidak ingin anak hanya sekadar ‘menyesuaikan diri’, tetapi benar-benar dilihat, didengar, dan dihargai," beber Wina Natalia.

Sebagai bagian dari Bulan Kesadaran Autisme, Atelier of Minds bersama Agape Psychology juga akan mengadakan rangkaian workshop bagi orang tua dan pendidik.

Program ini bertujuan membantu masyarakat bergerak dari sekadar memahami menuju menerima, sekaligus memberikan panduan praktis dalam menerapkan pendekatan neuro-affirming di rumah maupun di sekolah.

Baca Juga: Atelier of Minds Gandeng Agape Psychology Singapura Perkuat Layanan Enrichment Inklusif