Memperingati Bulan Kesadaran Autisme Sedunia, cara pandang terhadap 'rasa aman' di sekolah mulai mengalami pergeseran.
Selama ini, banyak orang tua mengartikan sekolah yang aman sebagai lingkungan yang bebas dari perundungan. Namun, bagi anak neurodivergent seperti anak dengan autisme, ADHD, atau disleksia, rasa aman tidak sesederhana itu.
Seiring dengan terbitnya Permendikdasmen No. 6/2026 tentang Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman, kebutuhan akan pendekatan yang lebih inklusif semakin mengemuka.
Atelier of Minds, sebuah after-school care dan enrichment center inklusif di Jakarta Selatan, menilai bahwa rasa aman bagi anak neurodivergent harus melampaui kebijakan anti-perundungan dan bergerak menuju pendekatan yang lebih mendasar: lingkungan neuro-affirming.
Bagi anak neurodivergent, tantangan yang dihadapi sering kali tidak kasat mata. Mereka mungkin kesulitan memahami situasi sosial, mengalami tekanan sensorik, atau terus-menerus berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan yang tidak sepenuhnya memahami kebutuhan mereka.
Dalam banyak kasus, anak bahkan belajar untuk menyembunyikan cara berpikir atau berperilaku mereka agar terlihat 'sama' dengan teman-temannya. Proses ini dikenal sebagai masking.
Meski tampak berhasil dari luar, masking dapat menguras energi emosional dan berdampak pada kesehatan mental dalam jangka panjang.
Karena itu, menciptakan lingkungan yang benar-benar aman tidak cukup hanya dengan mencegah perundungan. Diperlukan pendekatan yang memahami cara kerja otak anak serta mendukung mereka untuk berkembang sesuai keunikan masing-masing.
Pendekatan neuro-affirming sendiri menekankan bahwa anak tidak perlu 'dipaksa menyesuaikan diri' dengan sistem, melainkan sistemlah yang perlu beradaptasi dengan kebutuhan anak.
Ries Sansani, Occupational Therapist dan Lead Coach di Atelier of Minds, menegaskan pentingnya peran lingkungan dalam membentuk rasa aman anak,
“Bagi anak neurodivergent, sekolah tidak otomatis menjadi tempat aman hanya karena tidak ada perundungan secara fisik. Rasa aman muncul ketika anak dapat menjadi dirinya sendiri tanpa takut disalahpahami. Dalam perspektif Occupational Therapy, regulasi emosi anak sangat dipengaruhi oleh bagaimana lingkungan mendukung kebutuhan sensori mereka," ungkap Ries Sansani, dikutip Rabu (1/4/2026).
Ia juga menambahkan bahwa pendekatan disiplin yang kaku justru dapat memperburuk kondisi anak:
“Ketika anak dipaksa ‘menyesuaikan diri’ melalui pendekatan disiplin yang kaku tanpa memahami kebutuhan sensori dan regulasinya, hal tersebut justru dapat meningkatkan stres dan disregulasi. Kebutuhan sensori yang terpenuhi dapat membentuk regulasi diri yang baik serta mengembangkan Functional Emotional Development Capacity, yaitu kapasitas perkembangan emosional yang memungkinkan anak merasa aman dan percaya ketika membangun hubungan dengan orang lain," lanjutnya,
Kemudian, untuk memperkuat implementasi pendekatan ini, Atelier of Minds berkolaborasi dengan Agape Psychology, klinik psikologi berbasis di Singapura yang telah berpengalaman lebih dari satu dekade dalam praktik pendidikan inklusif.
Jeremy Ang, Clinical Director Agape Psychology, menekankan bahwa pendekatan neuro-affirming bukan sekadar adaptasi konsep luar, melainkan proses kolaboratif yang kontekstual.
“Tujuan kami adalah menerjemahkan praktik neuro-affirming yang telah kami kembangkan secara mendalam di Singapura ke dalam dunia pendidikan Indonesia. Pendekatan ini bukan sekadar tentang menerapkan model asing, melainkan tentang bersama-sama membangun kerangka kerja yang berkelanjutan dan peka terhadap budaya, sehingga anak-anak Indonesia dapat berkembang secara baik dalam sisi akademis, sosial, dan emosional," terang Jeremy Ang.
Diketahui, kebutuhan akan layanan pendidikan inklusif di Indonesia semakin nyata. Berdasarkan data global WHO yang dirujuk Kementerian Kesehatan, sekitar 1 dari 100 anak di dunia memiliki Autism Spectrum Disorder (ASD). Di Indonesia, jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 2,4 juta anak.
Angka ini menunjukkan bahwa pendekatan pendidikan yang inklusif dan adaptif bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Baca Juga: Tantangan dan Peluang Inklusi Neurodivergent di Indonesia
Dan, untuk membantu sekolah menerjemahkan kebijakan menjadi praktik nyata, Ries Sansani membagikan tiga langkah awal yang dapat diterapkan:
1. Mengutamakan keamanan sensorik
Rasa aman tidak hanya berarti bebas dari kekerasan, tetapi juga bebas dari tekanan sensorik. Sekolah dapat menyediakan ruang tenang atau memperbolehkan penggunaan headphone peredam suara bagi anak yang membutuhkan.
2. Berpindah dari kepatuhan ke kolaborasi
Alih-alih langsung menghukum perilaku yang dianggap tidak biasa, guru dapat mencoba memahami pesan di balik perilaku tersebut. Lingkungan belajar perlu menyesuaikan kebutuhan anak, bukan sebaliknya.
3. Mengenalkan keragaman cara berpikir kepada siswa
Perundungan dapat berkurang ketika siswa memahami perbedaan. Anak-anak dapat diajarkan bahwa setiap otak bekerja secara berbeda, ada yang seperti Windows, ada yang seperti Mac. Dari pemahaman ini, empati dapat tumbuh secara alami.
Bagi banyak orang tua, menemukan lingkungan yang benar-benar aman bagi anak adalah perjalanan yang tidak mudah. Wina Natalia, figur publik sekaligus ibu dari anak neurodivergent, mengungkapkan kekhawatiran yang sering dirasakan orang tua:
“Sebagai orang tua, ketakutan terbesar bukan hanya anak di-bully, tetapi saat anak dipaksa mengubah dirinya agar bisa diterima. Ketika menemukan lingkungan yang menghargai neurodiversity, dampaknya sangat besar bagi keluarga. Kami tidak ingin anak hanya sekadar ‘menyesuaikan diri’, tetapi benar-benar dilihat, didengar, dan dihargai," beber Wina Natalia.
Sebagai bagian dari Bulan Kesadaran Autisme, Atelier of Minds bersama Agape Psychology juga akan mengadakan rangkaian workshop bagi orang tua dan pendidik.
Program ini bertujuan membantu masyarakat bergerak dari sekadar memahami menuju menerima, sekaligus memberikan panduan praktis dalam menerapkan pendekatan neuro-affirming di rumah maupun di sekolah.
Baca Juga: Atelier of Minds Gandeng Agape Psychology Singapura Perkuat Layanan Enrichment Inklusif