Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) belum menuntaskan proses investigasi kecelakaan maut di Stasiun Bekasi Timur yang melibatkan KRL commuter line, taksi listrik, dan KA Argo Bromo Anggrek.

Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono mengatakan proses penelusuran untuk mengetahui penyebab kecelakaan maut yang merenggut 16 korban jiwa itu memakan waktu hingga 3 bulan. Saat ini pihaknya masih mengumpulkan sejumlah data.

Baca Juga: KAI Properti Pasang Palang Pintu Perlintasan KA di Jalan Ampera, Kota Bekasi

“Kita berharap kalau semuanya lancar 2-3 bulan,” ujar Soerjanto kepada wartawan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta dilansir Jumat (21/5/2026).

Menurut dia, data-data yang masih dikumpulkan nantinya akan dianalisis lebih lanjut agar hasil investigasi benar-benar akurat dan komprehensif. 

“Kita perlu waktu lagi untuk mengevaluasi. Ada beberapa data yang masih kita butuhkan dan masih kita olah untuk melengkapi data-data tersebut,” katanya.

Sebelumnya, kecelakaan kereta api yang melibatkan KRL commuter line, taksi listrik, dan KA Argo Bromo Anggrek terjadi di Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Senin (27/4/2026) malam. Insiden bermula ketika sebuah taksi listrik diduga terjebak di tengah perlintasan sebidang dan tertemper KRL commuter line yang melintas.

Benturan tersebut menyebabkan rangkaian KRL mengalami gangguan posisi di jalur rel. Situasi kemudian memburuk setelah rangkaian terdampak bersinggungan dengan KA Argo Bromo Anggrek yang datang dari arah berlawanan.

Baca Juga: Apa Itu Gerakan Salib Merah dalam Film Pesta Babi?

Peristiwa nahas itu menyebabkan korban jiwa dan luka-luka serta sempat mengganggu operasional perjalanan kereta di lintas Bekasi.