Pakar Transportasi dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) Universitas Gadjah Mada (UGM), Iwan Puja Riyadi meminta pemerintah cermat memitigasi kawasan rawan demi menghindari kecelakaan maut Kereta Api sebagaimana yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur baru-baru ini.
Pernyataan itu disampaikan Iwan merespons rencana pemerintah yang hendak menggelontorkan dana Rp4 triliun untuk membenahi perlintasan tak sebidang di sejumlah kawasan di Pulau Jawa. Dimana perlintasan tak sebidang itu bakal ditutup permanen dan digantikan jalan layang atau flyover atau underpass.
Baca Juga: Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek Jadi Alarm Pembenahan Sistem Keselamatan Perkeretaapian Nasional
Supaya langkah pembenahan itu tepat sasaran dan tak terkesan buang-buang anggaran, Iwan mengatakan perbaikan infrastruktur itu mesti berbasis mitigasi risiko dan skala prioritas.
“Yang Rp 4 triliun ini, infrastruktur yang dimaksud apakah untuk infrastruktur utama atau penunjang? Secara nilai memang besar, tetapi kalau tidak ada mitigasi dan prioritas, dampaknya bisa tidak signifikan,” kata Iwan kepada wartawan dilansir Kamis (7/5/2026).
“Jangan sampai Rp 4 triliun itu nanti proyeknya kecil-kecil dan dampaknya tidak signifikan. Kalau kita bisa memitigasi apa yang akan dilakukan, tujuan utama infrastruktur ini kan keselamatan,” tambahnya.
Iwan melanjutkan, langkah awal mitigasi yang bisa dilakukan pemerintah adalah memetakan kawasan-kawasan rawan kecelakaan, daerah berisiko tinggi tersebut mesti menjadi prioritas agar intervensi yang dilakukan benar-benar efektif. Baginya fokus terhadap lokasi krusial jauh lebih penting ketimbang membagi anggaran ke terlalu banyak titik.
“Mitigasi tersebut bisa ditarik menjadi beberapa proyek yang signifikansinya cukup besar. Jadi meskipun Rp4 triliun mungkin tidak cukup untuk menyelesaikan seluruh persoalan di Pulau Jawa, dampaknya bisa besar. Istilahnya tidak diecer ke mana-mana, tetapi difokuskan pada beberapa lokasi atau kegiatan yang memberikan efektivitas besar,” tambah Iwan.
Iwan menegaskan, sejauh ini masih terdapat banyak perlintasan tak sebidang dengan risiko kecelakaan yang sang tinggi. Menurutnya, secara ideal perlintasan sebidang seharusnya dihilangkan sesuai amanat regulasi. Namun, kondisi kepadatan wilayah perkotaan membuat implementasinya tidak mudah.
“Idealnya sesuai undang-undang memang tidak ada perlintasan sebidang. Itu urgent, tetapi ada keterbatasan. Tidak semua bisa dibuat flyover atau underpass, apalagi di kota besar seperti Jakarta,” ujarnya.
Ia menjelaskan pembangunan underpass berpotensi memunculkan masalah baru seperti banjir, sedangkan pembangunan flyover atau jalur layang kereta membutuhkan biaya sangat besar.
“Biaya pembangunan sangat tinggi, bahkan bisa mencapai puluhan miliar per kilometer. Jadi tidak semua titik bisa langsung ditangani dengan solusi tersebut,” katanya.
Karena itu, ia menegaskan strategi mitigasi berbasis risiko menjadi langkah paling realistis untuk menekan potensi kecelakaan di perlintasan kereta api.
“Yang utama adalah mitigasi, mana yang paling krusial sehingga efeknya terasa besar. Jadi tidak harus semuanya, tetapi yang penting dampaknya nyata terhadap keselamatan,” pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, Presiden Prabowo Subianto mengatakan, pemerintah telah menyediakan anggaran sebesar Rp4 triliun untuk membenahi sejumlah perlintasan tak sebidang yang rawan kecelakaan. Presiden mengakui sejauh ini terdapat sekitar 1.800 titik perlintasan kereta sebidang di Pulau Jawa yang belum terjaga dengan baik, dan membutuhkan penanganan serius.
"Dari zaman Belanda, sudah berapa puluh tahun, sekarang sudahlah kita selesaikan semua itu. Saya akan perintahkan segera kita akan perbaiki semua lintasan tersebut, apakah dengan pos jaga atau dengan fly over, nanti pelaksanaannya kita tunjuk," ujar Prabowo.
Baca Juga: Kecelakaan Maut KA Argo Bromo Anggrek, Siapa yang Bertanggung Jawab?
"Kita perhitungkan sekitar hampir Rp4 triliun demi keselamatan, karena kereta api sangat penting dan sangat kita perlukan. Sudah berapa puluh tahun hal ini tidak dilakukan, sekarang saatnya kita lakukan," imbuhnya.