Berdiri sejak tahun 1975, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) merupakan pengembang yang berhasil mengubah rawa-rawa menjadi pusat hunian dan bisnis modern di Kelapa Gading. Menyusul kesuksesan tersebut, Summarecon telah berekspansi ke Serpong–Tangerang, Banten, hingga Bekasi, Jawa Barat.

Di balik perjalanan panjang itu, ada andil besar seorang Soetjipto Nagaria. Dia merupakan pendiri PT Summarecon Agung Tbk yang mencatatkan sahamnya dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Mei 1990. Saat ini, Soetjipto Nagaria menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Summarecon Agung Tbk serta menggenggam saham mayoritas SMRA lewat PT Semarop Agung yang mengantongi 33,8% saham.

Baca Juga: Kisah Pendirian Djarum Group

Sulap Rawa Jadi Lokasi Prestisius

Soetjipto Nagaria sejak kecil telah tinggal di Jakarta. Dia mengenyam pendidikan TK hingga SMA Pahoa di wilayah Jakarta Barat. Setelah itu, Soetjipto masuk ke Teknik Kimia di ITB dan lulus pada tahun 1964. Sempat bekerja di pabrik cat, Soetjipto lantas fokus di bisnis jual beli tanah hingga mendirikan perusahaan propertinya sendiri.

Karier Soetjipto di dunia properti diawali sebagai spekulan tanah. Kala itu, ia mempunyai dua prinsip dasar, yakni memiliki dana dan mampu membaca potensi kenaikan nilai tanah. Lalu, dia sadar bahwa ada potensi bisnis lebih besar daripada sekadar jual-beli tanah. Akhirnya, Soetjipto membangun perusahaan bernama PT Summarecon Agung Tbk pada tahun 1975.  Nama Summarecon berasal dari kata summa yang artinya 'puncak' dan recon yang berasal dari kata real estate corporation.

Sejumlah sumber menyebut bahwa ayah Soetjipto Nagaria merupakan pengusaha bahan bangunan. Dengan begitu, modal Soetjipto dalam membangun sebuah perusahaan dapat diasumsikan datang dari keluarganya. Selain itu, di awal pendirian PT Summarecon Agung Tbk, Soetjipto juga mengajak dua keluarga lain untuk membangun Summarecon di Kelapa Gading.

Soetjipto Nagaria yakin membeli tanah di Kelapa Gading yang saat itu masih berupa rawa tak layak huni. Ia paham bahwa pengembangan kota sangat bergantung pada akses transportasi sehingga melihat potensi besar di wilayah berawa itu saat sistem jalan raya Jabodetabek mulai direncanakan.

Pembangunan rumah hunian di Kelapa Gading Permai seluas 10 hektare mulai dilakukan pada September 1976. Pada Mei 1984, Sports Club Kelapa Gading Permai yang kini dikenal sebagai Klub Kelapa Gading resmi dibuka. Lalu di tahun 1990, dilakukan pembukaan Mal Kelapa Gading fase pertama.

Di tahun 1992, keluarga Soetjipto menjadi pemegang saham terbesar PT Summarecon Agung Tbk usai satu keluarga keluar.