Kami sangat berterima kasih atas dukungan Yayasan WINGS Peduli. Dari awal Bank Sampah Kartini 09 terbentuk, kami terus dibimbing, diberi berbagai macam pelatihan, sampai bisa bertemu dengan pegiat bank sampah lain untuk sama-sama belajar.
Binar di matanya tak bisa lagi disembunyikan tatkala ia mengingat kembali momen dua tahun silam, ketika semua langkah ini baru dimulai. Tumbuh di kawasan padat penduduk di wilayah RW 09 Cakung Barat, Jakarta Timur membuat Nur Azizah (34) menyaksikan sendiri bagaimana sampah menjadi salah satu masalah utama yang mencemari lingkungan.
"Di sini lumayan padat lingkungannya jadi sampah itu walaupun setiap hari diambil, kayak masih banyak aja gitu di lingkungan. Apalagi kalau musim hujan, sampahnya bisa bikin banjir," ungkap Azizah dalam wawancara eksklusif bersama Olenka.id pada Sabtu, 31 Januari 2026.
Ketika itu, lanjut Azizah, masyarakat di wilayah RW 09 Cakung Barat belum begitu peduli dengan sampah yang mencemari lingkungan. Mulai dari sampah rumah tangga hingga sampah-sampah plastik dibiarkan menumpuk di depan rumah, tanpa dipilah dan tanpa dikelola dengan lebih baik.
Baca Juga: Ragam Inisiatif Yayasan WINGS Peduli untuk Lingkungan Hidup yang Lebih Baik
Baca Juga: Nutrisi Pagi untuk Bantu Anak Aktif Sepanjang Hari
Namun, semuanya mulai berubah menjadi lebih baik pada pertengahan tahun 2024. Ketika bank sampah yang pernah ada di wilayah RW 09 hanya tinggal cerita, Yayasan WINGS Peduli bersama Waste4Change datang mengajak bermitra.

"Dulu ada (bank sampah), tapi sudah engga aktif lagi. Nah pertengahan tahun 2024, WINGS Peduli datang mengajak membuat Bank Sampah Kartini 09. Dari situ dibentuk pengurus yang awalnya cuma 10 orang," tambahnya lagi.
Dari sepuluh pengurus tersebut, Azizah dipercaya menjabat sebagai Ketua dan Direktur Bank Sampah Kartini 09 besutan WING Peduli ini. Bersama rekan-rekan lainnya, Azizah sejatinya sudah aktif di kegiatan lingkungan sebagai Kader Dasawisma. Hanya saja, imbuh Azizah, mengelola bank sampah adalah hal baru bagi mereka.
Para pengurus Bank Sampah Kartini 09 ini mengaku harus memulai dari nol, bahkan dengan kondisi belum benar-benar memahami bahwa sampah bisa memiliki nilai ekonomi jika dipilah dan dikelola dengan baik.
"WINGS Peduli sudah punya beberapa bank sampah, tapi yang benar-benar dari nol itu kami (Bank Sampah Kartini 09). Ibaratnya kami benar-benar seperti bayi yang ditetaskan oleh WINGS," ungkap Azizah dengan penuh haru.
Bukan Sekadar Program, Melainkan Proses Bertumbuh dan Berdampak
Juni 2024, langkah kecil itu dimulai. Dipimpin oleh Nur Azizah, sekelompok ibu rumah tangga perlahan menghidupkan kembali bank sampah yang sempat mati suri. Memasuki tahun kedua di 2026, denyutnya makin terasa, bukan hanya soal sampah, melainkan juga tentang proses bertumbuh dan berdampak.
Selayaknya memulai sebuah perjalanan panjang, ada tantangan yang dihadapi oleh para perempuan penggerak Bank Sampah Kartini 09 ini. Azizah memaparkan, di awal pendirian bank sampah, para pengurus kesulitan untuk mengedukasi masyarakat soal milah sampah.
"Mereka masih engga tahu bahwa sampah ini bisa bernilai. Akhirnya kami aktif datangi kelompok pengajian dan senam ibu-ibu, kami edukasi," lanjutnya.
Berbagai pendekatan mereka Azizah dan kawan-kawan lakukan untuk memastikan edukasi memilah sampah ini sampai kepada masayarakat. Salah satu pendekatan paling efektif ialah dengan menekankan nilai ekonomi dari sampah.
Baca Juga: AQUVIVA Gaungkan Kampanye 3-2-1: Cukupi Hidrasi, Bikin Nyaman Beraktivitas Sehari-Hari
"Kalau sampah dipilah itu harganya lebih tinggi. Nah itu biasanya langsung 'kena' ke ibu-ibu," sambungnya.
Benar saja, dengan penekanan nilai ekonomi tersebut, kebiasaan baru masyarakat mulai terbentuk. Kini, sampah tak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus langsung dibuang, tetapi juga sesuatu yang bernilai.
"Alhamdulillah, makin ke sini masyarakat udah makin bisa dan ngerti untuk milah sampah dari rumah," lanjutnya.
Tak hanya berhenti di situ, Azizah dan rekan-rekan pengurus juga terus berupaya menjaga api semangat dengan meluaskan keterlibatan masyarakat untuk aktif di kegiatan bank sampah.
Dengan semringah, Azizah menceritakan bahwa setiap waktu penimbangan, beberapa pengurus bank sampah bahkan sampai harus jemput bola ke masyarakat. Bermodal kendaraan roda dua, mereka menyusuri gang-gang perkampungan, mendatangi warga satu per satu untuk mengumpulkan sampah.
"Ada pengurus yang memang paling semangat kalau keliling ngambilin sampah pakai motor. Kadang sampai penuh motornya," pungkas Azizah.

Lebih lanjut, Azizah mengatakan bahwa aksi jemput bola tersebut juga sekaligus untuk menyiasati keterbatasan yang ada. Memahami bahwa Bank Sampah Kartini 09 berada di lingkungan padat penduduk dan belum memiliki gudang, pengumpulan dan penimbangan sampah tidak selalu dilakukan di satu titik.
Umumnya, beberapa hari sebelum waktu penimbangan, pengurus akan mengumumkan melalui WhatsApp terkait jadwal penimbangan dan transparansi harga kepada para nasabah. Berbagai upaya tersebut secara konsisten dijaga sehingga ekosistem bank sampah terbentuk dengan baik.
Ekosistem yang baik tersebut tercermin melalui jumlah nasabah bank sampah yang terus bertumbuh. Azizah menyebut, pada awal operasional, Bank Sampah Kartini 09 hanya memiliki kurang dari 30 nasabah akif. Namun, kini pertumbuhannya sudah lebih dari dua kali lipat.
"Sekarang sudah punya 65-an nasabah aktif (KK) yang benar-benar konsisten memilah dan menimbang sampah," lanjutnya.
Meski masih terbilang sederhana, hanya berupa kegiatan penimbangan dan pencatatan sebelum sampah disalurkan ke lapak, pengurus Bank Sampah Kartini 09 mengaku bahwa upaya tersebut sudah menunjukkan dampak yang nyata. Kini, lingkungan RW 09 Cakung Barat menjadi lebih bersih karena sampah bernilai ekonomis tidak lagi menumpuk percuma di depan rumah-rumah warga.
"Dampak yang paling besar ke lingkungan itu sampah bernilai sudah engga lagi menumpuk di tong sampah depan rumah. Itu sangat positif, apalagi buat ibu-ibu itu juga senang karena bisa nabung dari sampah," imbuh Azizah lagi.
Dukungan Berkelanjutan WINGS Peduli
Dengan penuh syukur, Azizah mengungkapkan bahwa kehadiran WINGS Peduli dalam mendukung pemberdayaan lingkungan tak hanya berhenti di awal pembentukan Bank Sampah Kartini 09. Sejak awal, mereka tak dibiarkan berjalan sendiri.
Secara konsisten, para pengurus Bank Sampah Kartini 09 dibekali pelatihan menyeluruh, mulai dari pemilahan sampah, sistem pembukuan, hingga kemampuan komunikasi publik. Dengan berbagai pelatihan yang diberikan, Azizah dan rekan pengurus lainnya dilatih untuk mampu berbicara di depan publik sekaligus diberikan liat untuk bisa meyakinkan masyarakat bahwa memiliah sampah bukan hal yang rumit, melainkan suatu aksi yang membawa manfaat.
"Pokoknya kami makasih banget dengan dukungan WINGS Peduli. Dari awal kami (Bank Sampah Kartini 09) dibentuk, tapi kami engga dilepas. Kami terus dibimbing, dikasih macam-macam pelatihan, sampai bisa ketemu dengan pegiat bank sampah lain buat sama-sama belajar," tuturnya lagi.
Ibarat botol bertemu tutup yang tepat, kepedulian dan dukungan WINGS Group seakan mendapat penerimaan yang positif dari masyarakat di wilayah RW 09 Cakung Barat tersebut. Hal tersebut juga diamini oleh Seva Nefertiti selalu perwakilan Yayasan WINGS Peduli. Kepada Olenka, Seva bercerita bahwa pendampingan bank sampah merupakan bagian dari inisiatif WINGS Group dalam mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan melalui kampanye #PilahDariSekarang yang digagas sejak tahun 2023.
Salah satu nilai yang terus digaungkan WINGS Peduli dalam hal ini ialah alah bahwa membangun bank sampah bukan sekadar menghadirkan fasilitas, melainkan tentang membangun manusia yang mau bergerak, memastikan ada orang-orang yang siap menjalankannya secara berkelanjutan.
“Kalau ada lokasi, tetapi warganya engga mau dibekali, itu sama saja bohong. Program apa pun engga akan jalan kalau engga ada manusianya. Karena mereka yang akan menjadi perpanjangan tangan kami dalam membangun bank sampah," jelas Seva kepada Olenka.
Maka dari itu, lanjut Seva, WINGS Peduli senantiasa memberikan pembinaan secara berkelanjutan guna memastikan bahwa langkah-langkah kecil dalam membangun bank sampah tidak berhenti di tengah jalan. WINGS Peduli juga berupaya untuk membangun proses belajar yang berjalan dua arah. Tidak hanya warga yang belajar, tetapi juga pengurus, bahkan pihak pendamping.
Dalam kesempatan yang sama, Seva mengungkapkan, WINGS Peduli memahami bahwa di tengah keseharian yang padat, tidak mudah bagi para pengurus untuk terus konsisten. Ada kalanya mereka merasa lelah dan semangat yang menurun. Pada saat-saat inilah, peran pendampingan menjadi sangat berarti.
"Kami sering datangi, berdiskusi tentang ide-ide atau kegiatan apa yang bisa dilakukan supaya para ibu-ibu pengurus ini semangat lagi. Kami buat pertemuan antarbank sampah Binaan WINGS Peduli, kami gelar aksi bersih-bersih sungai, sampai studi banding ke tempat-tempat lain," tambah Seva menjelaskan.
Kegiatan-kegiatan di luar aktivitas rutin bank sampah ini seakan menjadi pemantik energi bagi para pengurus Bank Sampah Kartini 09, salah satunya adalah Hikmah yang turut mendampingi Azizah dalam wawancara bersama Olenka.
“Kadang kita sudah capek, tapi ada saja kegiatan dari WINGS yang bikin semangat lagi,” ungkap Hikmah mengamini.
Lebih lanjut, Seva mengatakan bahwa bagi WINGS Peduli, dampak pendampingan bank sampah yang ingin dicapai tidak berhenti pada pengurangan sampah. Ada aspek pemberdayaan yang menjadi bagian penting, terutama bagi perempuan.
Seperti halnya Bank Sampah Kartini 09, di beberapa titik bank sampah digerakkan oleh para ibu rumah tangga. Mereka yang sebelumnya hanya berkutat pada aktivitas domestik, kini menjadi agen perubahan di lingkungannua. Bersama WINGS Peduli, mereka belajar mengelola sampah, berorganisasi, bahkan berbicara di depan publik. Dan dari sampah, mereka mulai membangun kemandirian ekonomi.
Perlu diketahui, per Desember 2025 WINGS Peduli kini telah memiliki empat bank sampah binaan yang tersebar di Jakarta Timur, Bekasi, dan Surabaya. Masing-masing bank sampah binaan tersebut, lanjut Seva, berhasil menampung dan mengelola rata-rata 350 kg sampah non-organik perbulan sehingga tidak berakhir di TPA.
“Komitmen kami bukan hanya tentang banyaknya titik lokasi bank sampah, tetapi kami mengupayakan setiap satu bank sampah yang sudah dibina, itu bisa mandiri dan berkelanjutan,” tutupnya.