Eks Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan juga sempat melontarkan kritik pedas terhadap pelaksanaan MBG setelah kasus keracunan makanan terjadi di mana-mana.
"Baru balik dari Malaysia. Baca-baca berita keracunan MBG seminggu terakhir ini ada di Sidoarjo, Tana Toraja, Rembang, Klaten, dan mungkin masih ada banyak lagi tempat-tempat lain," kata Anies.
"Pertanyaan saya berapa batas minimal jumlah korban anak-anak keracunan sampai kita mau anggap ini sebagai skandal, sebagai krisis besar, sebagai kasus luar biasa sehingga kita akhirnya mau tekan rem darurat untuk mengevaluasi secara total semuanya,” tambahnya
Anies menegaskan, rentetan peristiwa itu seharusnya membuka mata pemerintah untuk melakukan upaya mitigasi dini demi mencegah peristiwa itu berulang, namun yang terjadi kasus keracunan malah semakin marak.
"Apa kita mau tidak sensitif pada risiko yang dihadapi anak-anak kita? Apa kita mau semakin kebal terhadap masalah dan semakin anggap semua ini kejadian biasa saja?" ujar Anies.
Ia menilai keselamatan dan kesehatan anak tidak seharusnya ditempatkan sebagai persoalan yang dapat dikompromikan. Menurutnya, persoalan yang muncul dalam pelaksanaan MBG perlu dilihat secara serius, terlepas dari apakah penyebabnya berkaitan dengan kelalaian birokrasi, proses distribusi, maupun rantai pasok makanan.
Anies juga mengajak publik melihat rentetan kasus tersebut dalam konteks yang lebih luas. Jika kejadian serupa terus berulang, menurut dia, perhatian tidak cukup hanya diarahkan pada jumlah kasus, tetapi juga pada pertanyaan mengenai batas toleransi dan langkah korektif yang perlu dilakukan.
"Ini sering terjadi, ini bukan masalah sistemik, ini tidak perlu dibesar-besarkan, dan tidak perlu ada yang dituntut bertanggung jawab atau dihukum karenanya. Sekali lagi di mana batas toleransi kita coba kita pikirkan?” pungkasnya.