Masuknya Gen Z ke pasar kerja internasional membawa perubahan dalam cara generasi muda memandang pekerjaan dan kontrak kerja di luar negeri. Bagi sebagian pekerja muda, bekerja di luar negeri tidak lagi hanya dilihat sebagai kesempatan memperoleh penghasilan yang lebih tinggi. Pengalaman kerja juga semakin dipertimbangkan sebagai bagian dari pengembangan diri, peningkatan keterampilan, serta investasi untuk membangun karier dalam jangka panjang.
Wina Novita Dewi selaku Owner TRUSTINDO Consultant mengatakan, "Cara pandang Gen Z terhadap pekerjaan kini semakin berkembang. Bagi generasi muda, pekerjaan bukan lagi semata-mata tentang besaran gaji, melainkan juga tentang kesempatan untuk terus belajar, mengembangkan diri, memperoleh pengalaman, membangun keterampilan, serta memiliki prospek karier yang berkelanjutan. Mereka mulai melihat pekerjaan sebagai bagian dari perjalanan untuk membangun kapasitas dan masa depan, bukan hanya sebagai sumber penghasilan."
Baca Juga: Ria Lirungan: Karier Tak Selalu Harus Berawal dari Mimpi Besar
"Perubahan ekspektasi ini membuat proses persiapan calon pekerja menjadi semakin penting. Selain kemampuan bahasa, keterampilan teknis, dan kesiapan fisik, aspek psikologis seperti motivasi, stabilitas emosi, daya juang, serta kemampuan beradaptasi juga perlu menjadi perhatian sejak proses seleksi," tegasnya, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Ketika Ekspektasi Tidak Sesuai dengan Realitas
Generasi muda saat ini memiliki akses informasi yang semakin luas mengenai pekerjaan, lingkungan kerja, hingga peluang pengembangan karier. Kondisi tersebut membuat calon pekerja datang dengan ekspektasi yang lebih beragam terhadap pekerjaan yang akan mereka jalani.
Di satu sisi, hal ini dapat menjadi hal positif karena pekerja semakin sadar terhadap arah karier dan pengembangan dirinya. Namun di sisi lain, ketidaksesuaian antara ekspektasi awal dengan kondisi pekerjaan di negara tujuan dapat menimbulkan tantangan dalam proses adaptasi.
Perbedaan budaya kerja, ritme pekerjaan, kedisiplinan, pola komunikasi, hingga kondisi kehidupan sehari-hari dapat memicu culture shock apabila calon pekerja belum memiliki kesiapan mental yang memadai. Karena itu, kemampuan bertahan dalam tekanan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru menjadi bagian penting dari keberhasilan penempatan kerja.
Metode seleksi yang hanya mengandalkan kemampuan bahasa dan kondisi fisik belum tentu cukup untuk mengetahui kesiapan seseorang dalam menjalani kontrak kerja secara jangka panjang. Ketidaksesuaian ekspektasi dan motivasi dapat meningkatkan risiko hilangnya motivasi hingga keinginan mengakhiri kontrak lebih awal.
Asesmen Psikologis Jadi Bagian dari Persiapan Kerja
Untuk menjawab tantangan tersebut, proses seleksi calon pekerja perlu berkembang dari sekadar mengukur kompetensi teknis menjadi pemetaan yang lebih menyeluruh terhadap kesiapan individu. TRUSTINDO Consultant melihat asesmen psikologis dapat digunakan untuk membantu Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) dan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) memahami karakter calon pekerja sejak awal, termasuk dari sisi motivasi kerja, kepribadian, ketelitian, daya juang, hingga stabilitas emosi.
Proses tersebut dapat dilengkapi dengan Behavioral Event Interview (BEI), yaitu wawancara yang menggali pengalaman nyata kandidat dalam menghadapi konflik, tekanan, maupun situasi sulit. Pendekatan ini membantu melihat bagaimana calon pekerja mengambil keputusan dan merespons tantangan berdasarkan pengalaman sebelumnya.
Pendampingan terhadap calon pekerja juga tidak berhenti pada masa pembekalan sebelum keberangkatan. TRUSTINDO Consultant tetap memberikan perhatian kepada peserta setelah mereka mulai bekerja di negara penempatan, terutama ketika menghadapi persoalan pribadi, tekanan pekerjaan, maupun tantangan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan budaya baru. Melalui TRUSTINDO Mobile, pekerja tetap memiliki kesempatan untuk berkonsultasi dengan Psikolog TRUSTINDO selama menggunakan aplikasi tersebut.
Dari Kontrak Kerja Menjadi Investasi Karier
Perubahan cara generasi muda memandang pekerjaan seharusnya tidak hanya dilihat sebagai tantangan bagi industri penempatan. Kondisi ini juga membuka peluang bagi LPK dan P3MI untuk mempersiapkan tenaga kerja Indonesia yang semakin adaptif, profesional, dan memiliki orientasi karier yang lebih matang.
Dengan proses seleksi yang mampu melihat kemampuan teknis sekaligus kesiapan psikologis, calon pekerja dapat memiliki gambaran yang lebih realistis mengenai pekerjaan yang akan dijalani. Di saat yang sama, LPK dan P3MI dapat lebih memahami apakah kandidat memiliki motivasi dan ketahanan yang sesuai untuk menyelesaikan masa kontraknya.
"Sejak 2017, TRUSTINDO Consultant telah mendampingi LPK dan P3MI dalam proses penyeleksian serta pemetaan psikologis calon pekerja dan pemagang luar negeri. Ke depan, kesiapan tenaga kerja Indonesia untuk bersaing di pasar global tidak hanya akan ditentukan oleh keterampilan teknis. Kemampuan beradaptasi, menjaga stabilitas emosi, dan melihat pekerjaan sebagai bagian dari perjalanan karier juga akan semakin penting dalam menciptakan penempatan kerja yang berkelanjutan," tandas Wina Novita Dewi.