Perubahan dominasi generasi muda di dunia kerja memicu adanya pergeseran gaya kepemimpinan dalam menghadapi dinamika global. Managing Director Lubricants Shell Indonesia, Andri Pratiwa mengungkapkan bahwa di tengah perubahan demografi dan keberagaman, seorang pemimpin harus inklusif.
Andri menjelaskan bahwa adanya tantangan keberagaman, geografi, demografi, bahkan lintas generasi membuat seorang pemimpin harus memiliki pendekatan yang berbeda dalam gaya kepemimpinan.
“Generasi milenial, generasi Z, dan generasi Alpha itu berbeda. Maka pendekatan tiap generasi juga berbeda, sehingga gaya kepemimpinan akan tetap adil,” ungkapnya dalam Fortune Indonesia Summit 2026, Jakarta, pada Kamis (12/2/2026).
Baca Juga: CEO JETE: Bangun Bisnis dari Kamar Kost hingga Masuk Fortune Indonesia 40 Under 40
Andri berpandangan bahwa ketika perbedaan semakin kompleks, tim harus memberikan masukan dan wawasan. Ia mengumpamakan situasi kompleks ini seperti tim sepak bola. Jika tim yang beragam tidak dikelola dengan baik dan mudah menyerah dalam menghadapi tantangan, maka tim akan runtuh.
“Tapi kalau itu (perbedaan) sudah semakin kompleks, seperti main bola, kalau semuanya penyerah, habis kita. Jadi, kalau kita punya tim yang diverse, baiknya memberikan input dan insight,” tuturnya.
Baginya, perbedaan justru menjadi kekuatan untuk menggali wawasan baru yang membantu perkembangan perusahaan. Menurutnya, mendengar aspirasi sangat krusial karena akan mendorong perusahaan ke arah yang lebih baik.
Lebih lanjut, Andri menyoroti perubahan pola pengambilan keputusan. Ia menilai pemimpin masa kini harus lebih banyak memberikan pemberdayaan (empowerment) dan otoritas kepada tim.
“Dulu fokusnya adalah decision making, sekarang lebih ke decision behavior. Kita memberikan otoritas kepada unit bisnis untuk mengambil keputusan, namun pemimpin tetap harus memberikan arahan (direction), pedoman umum, serta membangun budaya kerja yang kuat,” jelasnya.
Ia juga menegaskan pentingnya pemimpin yang memiliki prinsip walk the talk atau memberikan teladan nyata. Baginya tujuan dan penyampaian tujuan dari seorang pemimpin merupakan bagian penting.
“Seorang pemimpin harus memberikan tujuan (purpose). Kita harus teguh pada nilai-nilai inti; jika melanggar nilai, tidak ada toleransi. Namun, jika tim mencoba lalu gagal, kita harus cek niatnya (intention) agar tidak jatuh di lubang yang sama,” tutup Andri.