Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand), Is Prima Nanda, mengungkapkan bahwa kekayaan mineral yang dimiliki Indonesia tidak lagi cukup hanya diolah menjadi bahan baku. Nilainya baru akan terasa  lebih  besar  ketika  mineral  tersebut  mampu  dikembangkan  menjadi  material  maju  dan  produk teknologi  bernilai  tinggi,  sehingga  bisa  meningkatkan  kapabilitas  industri,  lapangan  kerja  berkualitas, serta kemandirian teknologi.  

Ia menambahkan, tantangan  terbesar  Indonesia  saat  ini  bukan  lagi tentang meningkatkan kapasitas produksi untuk memastikan ketersediaan  sumber  daya  mineral, melainkan  kemampuan membangun rantai nilai terintegrasi dari pemurnian, rekayasa material, hingga manufaktur.  

Baca Juga: Kerek Pertumbuhan Ekspor Nasional, Pemerintah Dorong Hilirisasi Industri Agro yang Inklusif

“Untuk naik ke produk teknologi bernilai tinggi, Indonesia perlu menguasai teknologi pemurnian, rekayasa material,  desain  produk,  hingga  proses  manufakturnya,”  ungkap  Prima,  dikutip pada Senin (10/8/2026). 

Prima Nanda menyebut, material merupakan fondasi dari hampir seluruh teknologi. Mineral seperti nikel, tembaga, bauksit, timah hingga mineral kritis lainnya, kata dia, baru akan memberikan nilai tambah lebih besar apabila dapat direkayasa menjadi material dengan karakteristik dan performa tertentu.   

Dekan  Fakultas Teknik Unand ini melanjutkan, material maju tersebut dapat menjadi fondasi berbagai teknologi  strategis,  mulai  dari  baterai,  kendaraan  listrik,  elektronik,  energi  bersih,  industri pertahanan hingga sektor dirgantara.  

“Kalau kita hanya menguasai sumber dayanya, kita tetap bergantung pada pihak lain untuk teknologi dan produk akhirnya. Sebaliknya, jika kita menguasai material sekaligus teknologinya, kita memiliki peluang menjadi technology maker, bukan hanya resource provider,” kata Prima.  

Pandangan  tersebut  sejalan  dengan  arah  pengembangan  industri  material  maju  yang  didorong Danantara  Indonesia.  Sebelumnya  pada  bulan  Juli,  CEO  Danantara  Indonesia,  Rosan  P.  Roeslani, mengatakan Indonesia perlu naik kelas dalam rantai nilai material maju dengan memanfaatkan kekayaan mineral sebagai fondasi pengembangan teknologi masa depan.

"Indonesia diberkahi dengan kekayaan mineral yang luar biasa, mulai dari nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga  rare  earth.  Bahan-bahan  ini menjadi fondasi teknologi masa depan, seperti baterai kendaraan listrik, semikonduktor, pertahanan, dan energi bersih. Namun, selama puluhan tahun kita terlalu sering berhenti  di  titik  ekstraksi  dengan  mengekspor  bahan  mentah,  lalu  membeli  kembali  produk  jadinya dengan harga yang berkali-kali lipat,” ujarnya.  

Menurut  Rosan,  investasi  jangka  panjang  perlu  diarahkan  tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperoleh dan mengembangkan teknologi, memperkuat SDM, serta membangun ekosistem industri nasional.   Dalam upaya tersebut, Danantara mendorong kolaborasi antara pemerintah, BUMN, industri, perguruan tinggi dan lembaga riset.

Pendekatan ini mencakup transfer teknologi, licensing, joint research, hingga co-development, sehingga investasi dapat menghasilkan kapabilitas teknologi yang tertanam di dalam negeri.  Di sisi lain, Chief Technology Officer BPI Danantara, Sigit P Santosa, menjelaskan Indonesia memiliki kekuatan di sisi hulu berupa mineral strategis yang melimpah, seperti nikel, tembaga, timah, bauksit, logam tanah jarang dan baja.

Indonesia pun memiliki kekuatan di sisi hilir melalui kebutuhan industri nasional, khususnya dari BUMN di sektor energi, transportasi, pertahanan, dirgantara, maritim, elektronik, dan manufaktur lainnya, namun tantangan utama saat ini berada pada bagian tengah rantai nilai. 

“kita  belum  sepenuhnya  menguasai  kapabilitas  untuk  mengubah  sumber  daya  tersebut  menjadi advanced  materials  yang  siap  digunakan  oleh  industri.  Inilah  yang  disebut  sebagai  hollow  middle. Indonesia sudah resource-rich, tetapi pekerjaan besar kita adalah menjadi capability-rich. Dari perspektif teknologi, transformasi tersebut hanya dapat dicapai apabila kita membangun technology mastery secara nasional”. Kata Sigit.

Kebangkitan  teknologi  Indonesia  berakar  pada  kemampuan  menguasai  inovasi  yang  diterjemahkan menjadi kekuatan industri serta kebermanfaatan nyata bagi masyarakat. Momentum Hari Kebangkitan Teknologi Nasional dan HUT ke-81 Republik Indonesia menegaskan pentingnya investasi jangka panjang dan kemandirian industri untuk membangun Indonesia yang semakin berdaulat, adil, dan makmur.