Growthmates, kehidupan konsumtif dengan berbagai tuntutan kebutuhan terus meningkat. Keinginan untuk tampil stylish kerap kali membuat seseorang harus memaksakan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kondisi finansialnya. Mulai dari membeli barang branded, makan di restoran mewah, membeli makanan dengan harga tidak wajar, hingga terus-menerus mengikuti berbagai trend baru.
Akibat perilaku tersebut, pengeluaran jadi membengkak hanya karena ingin terlihat sukses oleh orang lain. Pemicunya bisa disebabkan karena pengaruh lingkungan dan tidak memiliki rasa berkecukupan yang tinggi. Sehingga rasa ingin memiliki dalam diri semakin besar tanpa melakukan perhitungan yang tepat. Pada situasi inilah, downsizing perlu diberlakukan untuk mencegah impulsive buying atau (pembelian tanpa pikir panjang).
Baca Juga: Sering Belanja karena FOMO? Ini Cara Mengatasi Emotional Spending agar Tidak Boros
Konsep downsizing memiliki beberapa pengertian tergantung dari konteks penggunaannya. Simak penjelasan berikut seputar downsizing untuk tahu lebih dalam.
Mengenal Arti Downsizing
Dalam dunia kerja, downsizing diartikan sebagai strategi perusahaan untuk mengurangi jumlah tenaga kerja dan kompleksitas dalam suatu perusahaan. Upaya ini dilakukan untuk memangkas pengeluaran yang dirasa kurang efektif untuk keberlanjutan perusahaan. Penerapan downsizing bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan profitabilitas. Dengan begitu perusahaan tidak lagi terbebani oleh tanggungan yang jumlahnya cukup besar.
Baca Juga: Rahasia Pola Makan Wanita Tertua di Dunia, Ternyata Rutin Konsumsi 4 Makanan Ini!
Sehingga perusahaan dapat berfokus pada inti bisnis mereka secara lebih baik. Bila diartikan secara menyeluruh, downsizing berkaitan dengan bagaimana cara yang diperlukan untuk mengamankan keuangan. Pada konsep gaya hidup, downsizing merupakan upaya untuk menyederhanakan pengeluaran atau menyesuaikan pola kebiasaan dengan kemampuan dan tujuan finansial.
Konsep downsizing bukan semata-mata menghilangkan kesenangan, akan tetapi memilah dan memilih hal yang memang bermanfaat serta memiliki nilai dalam hidup. Direktur Eksekutif sekaligus pendiri Sage Financial Solutions serta profesor adjung perencanaan keuangan di Golden Gate University di San Francisco, Saundra Davis, mengatakan “Kesejahteraan finansial mencakup baik perhitungan matematis maupun emosi terkait uang,” jelasnya.
Artinya, apabila seseorang ingin merdeka secara finansial, namun sedang dihadapkan pada pemenuhan kebutuhan harus mampu berpikir panjang dan lebih terarah dengan mengandalkan logika dan perasaan. Sehingga, dana yang tersedia bisa dialihkan untuk hal-hal prioritas. Keputusan ini menjadi wujud kesadaran dalam membangun kehidupan yang lebih aman dan terencana.
Cara ini membantu seseorang untuk mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan utama, bukan karena dorongan keinginan sesaat atau pandangan orang lain. Keinginan untuk menyamai gaya hidup orang lain kerap membuat pengeluaran membengkak. Misalnya, membeli pakaian demi ikut tren, ganti ponsel yang masih layak pakai, atau memilih tempat nongkrong mahal hanya untuk menjaga citra diri.
Jika terus dilakukan, kebiasaan kecil ini bisa mengacaukan anggaran dan menyisakan sedikit ruang untuk menabung. Dengan belajar mengurangi ego, artinya belajar untuk membedakan kebutuhan pribadi dengan ekspektasi lingkungan. Tidak semua tren wajib ditiru dan tidak setiap momen juga harus dibuktikan lewat penampilan.
Seseorang bisa tetap tampil rapi, menarik, dan menikmati hidup tanpa harus selalu membeli barang-barang mahal. Nilai diri tidak ditentukan dari merek apa yang dikenakan, tetapi dari bagaimana seseorang mampu membawa dirinya untuk tampil apa adanya tanpa harus fokus pada validasi orang lain.
Langkah Praktis Menerapkan Downsizing dalam Keseharian
1. Kenali Pola Pengeluaran
Upaya ini dapat dilakukan secara perlahan dengan rutin melakukan pengecekan terkait pengeluaran dan mencatat transaksi selama sebulan. Kemudian memilah antara kebutuhan primer, sekunder, dan tersier untuk menghindari pengeluaran yang impulsif.
2. Menentukan Tujuan Finansial
Tetapkan target yang ingin dicapai, misalnya membuat dana darurat, membangun rumah, biaya pendidikan, dan melunasi utang. Tujuan yang spesifik membuat seseorang lebih mudah menolak pembelian dengan kesenangan sesaat. Sisihkan tabungan di awal saat gajian, kemudian baru sesuaikan sisa pengeluaran dengan dana yang tersedia.
3. Bangun Kebiasaan Sederhana
Kebiasaan sederhana ini dapat dimulai dari hal kecil seperti membawa bekal, mengurangi langganan menonton film, menaiki transportasi umum, dan merawat barang-barang pribadi agar dapat digunakan dalam jangka panjang. Membeli barang dengan mengutamakan manfaat dan kualitas yang disesuaikan dengan kondisi finansial.
4. Buat Perubahan dan Konsisten
Bagian ini menjadi langkah yang paling penting dari sebuah kebiasaan. Perubahan harus realistis dan konsisten. Tetap memberi ruang untuk menyalurkan kesenangan diri. Namun, harus diukur dengan takaran yang pas agar keuangan tidak keluar secara sia-sia. Kemudian, lakukan evaluasi anggaran tiap beberapa minggu agar tetap selaras dengan perubahan kebutuhan dan penghasilan.