Growthmates, kebiasaan berbelanja tidak selalu didorong oleh kebutuhan. Ada kalanya seseorang membeli barang hanya untuk memenuhi dorongan emosional, mengatasi rasa takut, atau sekadar mengikuti tren karena khawatir tertinggal dari orang lain (Fear of Missing Out/FOMO).
Kondisi ini dikenal sebagai emotional spending atau belanja emosional. Seseorang mungkin terdorong membeli berbagai barang bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena ingin mendapatkan kepuasan atau perasaan senang sesaat.
Jika tidak dikendalikan, kebiasaan tersebut berpotensi mengganggu kondisi keuangan dan membuat pengeluaran membengkak. Karena itu, penting untuk mengenali alasan di balik keinginan berbelanja sebelum memutuskan mengeluarkan uang.
Praktisi Mindfulness dan Kesehatan Mental, Adjie Santosoputro, mengungkapkan, emotional spending memiliki kemiripan dengan emotional eating.
Keduanya sama-sama melibatkan dorongan emosional yang membuat seseorang melakukan sesuatu meskipun sebenarnya tidak membutuhkannya.
"Ada kalanya kita makan ini, makan itu, sebenarnya nggak lapar. Demikian juga ketika kita beli ini, beli itu, mungkin itu hanya keinginan, bukan kebutuhan," ungkap Adjie, dikutip dari laman Instagram @qm_financial, Rabu (3/11/2026).
Menurut Adjie, ketika muncul dorongan untuk membeli sesuatu, seseorang sebaiknya tidak langsung menuruti keinginan tersebut. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah berhenti sejenak dan menyadari apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
Baca Juga: Tips Atur Keuangan untuk Hobi dan Shopping Tanpa Bikin Pengeluaran Bulanan Berantakan