Growthmates, kebiasaan membeli pakaian karena tren masih menjadi tantangan dalam menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Meski kesadaran terhadap isu lingkungan semakin meningkat, kepedulian tersebut belum tentu tercermin dalam keputusan konsumen saat memilih, membeli, hingga memperlakukan pakaian.

Ahli perilaku konsumen IPB University, Prof. Ujang Sumarwan, mengungkapkan, sikap peduli lingkungan tidak selalu berjalan seiring dengan perilaku konsumsi sehari-hari, termasuk dalam membeli pakaian.

Sejumlah faktor, mulai dari harga, ketersediaan produk, hingga kebiasaan mengikuti tren, turut memengaruhi pilihan konsumen.

“Ada beberapa faktor. Pertama, harga pakaian ramah lingkungan relatif lebih mahal dibandingkan dengan pakaian berbahan konvensional. Kedua, pilihan pakaian ramah lingkungan mungkin tidak sebanyak pakaian berbahan konvensiona,” kata Prof. Ujang, dikutip dari laman resmi IPB University, Rabu (4/11/2026).

Menurut Prof. Ujang, perbedaan daya beli dan terbatasnya variasi produk menjadi hambatan bagi konsumen yang ingin beralih ke pilihan pakaian lebih ramah lingkungan. Di sisi lain, informasi mengenai produk fesyen berkelanjutan, termasuk jenis bahan dan karakteristiknya, juga masih perlu diperluas agar masyarakat memiliki pertimbangan yang memadai sebelum berbelanja.

Kebiasaan mengikuti tren turut menjadi hal yang perlu diperhatikan. Keinginan memiliki pakaian terbaru dapat mendorong pembelian berulang, meskipun pakaian yang dimiliki sebelumnya masih layak digunakan.

Padahal, keputusan dalam membeli dan menggunakan pakaian merupakan bagian dari perilaku konsumsi yang memiliki kaitan dengan upaya menjaga lingkungan.

Prof. Ujang menilai, kepedulian terhadap lingkungan idealnya tidak berhenti pada sikap atau pengetahuan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata. Salah satunya dengan lebih bijak dalam menentukan kebutuhan pakaian, mempertimbangkan pilihan produk, serta memperpanjang masa pakai baju yang sudah dimiliki.

Ketika pakaian tidak lagi digunakan, konsumen juga tidak harus langsung membuangnya. Prof. Ujang menyarankan agar baju yang masih layak pakai diberikan atau disumbangkan kepada orang lain.

Pilihan lainnya adalah menjualnya kembali melalui pasar preloved, sehingga pakaian tersebut bisa dimanfaatkan oleh konsumen lain.

“Saya sendiri diberikan kepada yang lain,” tukasnya.

Baca Juga: Lifestyle Downgrade Jadi Kunci Bertahan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi