Sebuah adegan menarik mewarnai akhir mediasi antara PT Khazanah Tamma Internasional (Hanania Travel) dan jamaah umrah Syawal, Selasa (14/4/2026). Bukan tegang, justru haru dan penuh semangat.

Seorang perwakilan Kemenhaj yang ikut memfasilitasi mediasi tiba-tiba melontarkan fakta yang membuat ruangan hening sejenak.

"Hanania ini katanya bisa mencetak 13 ribu jamaah dalam satu musim umrah. Anak 30 tahun ini," ujarnya dengan nada takjub sekaligus prihatin.

Belum selesai kalimat itu, beberapa jamaah yang hadir langsung menyahut:

"Sayang banget kalau harus jatuh karena ini Mas."

"Hanania harus bangkit."

"Bisa yuk."

Suasana yang semula formal berubah menjadi hangat. Ada anggukan, ada senyum tipis, ada juga yang terlihat haru.

Fakta tentang 13.000 jamaah dalam satu musim itu bukan isapan jempol. Sebelumnya, Hanania Group juga pernah mencatatkan rekor MURI dengan mengumpulkan 2.022 alumni jamaah umrah dalam satu waktu–sebuah pencapaian yang belum pernah dilakukan oleh penyelenggara umrah lain di Indonesia.

Angka-angka itu menunjukkan bahwa Hanania bukan travel kecil. Mereka pernah menjadi salah satu pemain besar di industri umrah, dengan kepercayaan publik yang sangat tinggi.

Namun, masalah pemberangkatan jamaah umrah Syawal sempat membuat nama mereka tercoreng. Tapi di balik pemberitaan negatif, fakta di lapangan justru berbeda.

Sebelum mediasi digelar, Hanania sudah setiap hari melaporkan proses refund dan reschedule kepada Kemenhaj melalui chat. Mereka juga terbuka dan kooperatif dengan regulator, meskipun komunikasi ke jamaah sebelumnya kurang efektif sebuah kelemahan yang mereka akui dan perbaiki.

Para jamaah yang terdampak? Mereka justru ikut membantu proses administrasi untuk percepatan data.

"Ini langkah bagus untuk Hanania dan jamaah saling bahu-membahu mencari solusi," ujar Syahdan salah satu perwakilan jamaah.

Bahkan, pasca mediasi, mereka menggagas grup WhatsApp beranggotakan 200 orang. Tujuannya: saling menenangkan, bukan menyebar amarah.

"Kita tunggu aksi nyata Hanania ke depan. Doakan semoga Hanania bisa menjadi lebih baik setiap harinya. Mari lihat pembuktian di musim keberangkatan Juni dan Juli nanti," demikian pesan-pesan yang mengalir di grup tersebut.

Di akhir mediasi, seorang perwakilan jamaah melontarkan harapan yang menjadi benang merah dari semua pihak:

"Semoga kita bisa jadi percontohan bagi travel di luar sana. Pas ada masalah, pihak travel dan jamaahnya itu kompak cari solusi sama-sama."

Dari fakta bahwa Hanania pernah memberangkatkan 13.000 jamaah dalam satu musim, meraih rekor MURI 2.022 alumni, hingga kini jamaah yang terdampak justru bahu-membahu dan Kemenhaj yang mengakui kooperatif semua menunjukkan bahwa Hanania memiliki modal besar untuk bangkit.

Kini, semua mata tertuju pada pembuktian di lapangan, terutama pada musim keberangkatan Juni dan Juli mendatang.

"Hanania harus bangkit. Bisa yuk," sahutan jamaah itu seolah menjadi doa dan tantangan sekaligus.

Hingga berita ini diturunkan, Hanania Travel terus berkomitmen dengan memajukan industri Travel Umroh dengan kisah inspiratif dan tanggung jawab terhadap jamaahnya.