Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yudhistira Nugraha menyebut jika minyak sawit merupakan bahan baku yang dapat disulap menjadi energi untuk menggantikan bahan bakar fosil.

"Hasil assesment yang dilakukan oleh tim energi terbarukan BRIN, minyak sawit merupakan bahan yang paling memungkinkan untuk dikembangkan," katanya pekan lalu.

Baca Juga: Prabowo Berencana Sulap Sawit dan Singkong Jadi Bensin

Lebih lanjut, dirinya membeberkan tiga faktor yang menjadikan minyak sawit sangat potensial disulap, yakni dari kesiapan bahan baku; kesiapan teknologi dan hilirisasi; serta kebijakan pemerintah baik dari segi insentif, pendanaan, dan investasi.

Menurutnya, dengan Indonesia sebagai penghasil minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) terbesar di dunia dengan produksi diperkirakan mencapai 44,2 juta ton, maka hal tersebut sangat berpotensi minyak sawit dapat disulap menjadi energi terbarukan.

Baca Juga: Pemerintah Naikkan Dana Peremajaan Sawit Jadi Dua Kali Lipat

"Potensi tersebut merupakan sumber yang sangat melimpah untuk digunakan sebagai sumber biodisel," katanya.

Selain itu, ia juga mengatakan jika pemerintah sudah dan tengah menjalankan konversi bahan bakar minyak berbasis CPO, yaitu biodiesel B20 dan B30, serta ke depan B100 (green solar).

"Pengembangan teknologi produksi biofuel atau bahan bakar nabati berbasis minyak sawit mentah memerlukan biaya investasi yang tinggi, sehingga hal itu menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan bahan bakar alternatif tersebut," ujarnya.

Bebernya, pengembangan co-processing dalam memproduksi biofuel berbasis CPO perlu didorong agar dapat mewujudkan kemandirian energi di dalam negeri.

"Efisiensi produksi fossil fuel saat ini masih lebih tinggi daripada biofuel perlu dipertimbangkan terkait green inflation, sehingga perlu kebijakan hati-hati dalam penerapan secara nasional agar tidak mempengaruhi keseluruhan perekonomian nasional," tukasnya.