Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyoroti penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di dalam negeri yang terjadi saat nilai tukar dolar AS justru berada di level tinggi. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan anomali karena secara teori harga sawit seharusnya mendapat sentimen positif dari penguatan dolar.
Amran mengaku heran melihat harga sawit yang justru melemah ketika kurs dolar AS berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Padahal, sebagian besar perdagangan komoditas sawit menggunakan mata uang dolar sehingga pelemahan rupiah biasanya memberikan keuntungan bagi eksportir dan mendorong harga komoditas.
Baca Juga: Beasiswa SDM Sawit 2026 Resmi Dibuka, BPDP Tambah Kuota Jadi 5.000 Penerima
"Saya agak bingung, ini ada anomali. Dolar naik sampai Rp18.000, harga sawit harusnya naik, bukan turun," kata Amran.
Menurut dia, jika mengacu pada pergerakan nilai tukar, harga sawit semestinya bisa meningkat sekitar 10 persen. Karena itu, ia meminta jajaran terkait untuk mencermati penyebab penurunan harga yang terjadi di tingkat petani.
Amran menegaskan pemerintah akan berupaya menjaga harga sawit agar kembali berada pada level yang menguntungkan petani. Komoditas sawit dinilai memiliki peran penting dalam menopang pendapatan jutaan pekebun di berbagai daerah di Indonesia.
Baca Juga: Beasiswa Sawit Lahirkan Talenta Baru Hadapi Tantangan Industri Masa Depan
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia merupakan produsen sekaligus eksportir minyak sawit terbesar di dunia. Dengan posisi tersebut, menurutnya tidak seharusnya petani menerima harga yang jauh di bawah potensi pasar.
Pernyataan Amran muncul di tengah perhatian pemerintah terhadap stabilitas harga komoditas perkebunan. Selain sawit, pemerintah juga terus memantau perkembangan harga sejumlah komoditas strategis lainnya yang berpengaruh terhadap pendapatan petani dan kinerja ekspor nasional.
Sebelumnya, harga TBS sawit di sejumlah daerah dilaporkan mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini terjadi meskipun nilai tukar dolar AS terhadap rupiah masih berada pada level tinggi, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai faktor-faktor lain yang memengaruhi pembentukan harga sawit di dalam negeri.
Amran berharap harga sawit dapat kembali bergerak normal dan memberikan keuntungan yang lebih baik bagi petani. Ia bahkan membuka peluang langkah-langkah tambahan apabila diperlukan untuk memperbaiki harga komoditas tersebut.