Di sisi lain, gejala awal kanker kepala dan leher sering kali tampak ringan sehingga mudah diabaikan. Padahal, mengenali tanda-tandanya sejak dini dapat meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain sariawan yang tidak sembuh-sembuh, bercak putih atau merah di dalam mulut, kesulitan menelan, sakit tenggorokan yang berlangsung lebih dari tiga minggu, muncul benjolan di leher, hingga suara serak yang menetap. Jika keluhan-keluhan tersebut tidak membaik dalam waktu sekitar tiga minggu, dokter menyarankan agar segera memeriksakan diri daripada menunggu gejalanya hilang sendiri.

Diagnosis yang dilakukan sejak stadium awal sering kali memungkinkan tindakan operasi yang lebih kecil, terapi yang tidak terlalu agresif, serta memberikan kualitas hidup yang lebih baik setelah pengobatan.

Kanker kepala dan leher juga tidak hanya memengaruhi kondisi fisik, tetapi dapat mengganggu kemampuan berbicara, makan, menelan, bernapas, hingga mengubah penampilan wajah. Karena itu, penanganannya biasanya melibatkan berbagai disiplin ilmu, mulai dari dokter bedah, ahli gizi, terapis wicara, hingga spesialis rehabilitasi.

Selain dampak fisik, penyakit ini juga membawa beban psikologis yang besar. Banyak pasien merasa cemas untuk kembali bekerja, bersosialisasi, atau bahkan makan bersama keluarga. Inilah alasan mengapa deteksi dini menjadi sangat penting, karena dapat mencegah penyakit berkembang ke tahap yang membutuhkan penanganan lebih kompleks.

Dr. Shrikhande menegaskan bahwa meningkatkan akses layanan kesehatan harus dibarengi dengan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya mengenali gejala sejak awal.

"Saat kita berupaya membuat perawatan kanker berkualitas lebih mudah diakses di seluruh India, khususnya di komunitas yang kurang terlayani, kita harus memberikan penekanan yang sama pada kesadaran dan deteksi dini. Kanker kepala dan leher sangat dapat dicegah dan seringkali dapat disembuhkan jika dideteksi sejak dini. Diagnosis tepat waktu dan akses ke perawatan tetap menjadi peluang terbesar kita untuk menyelamatkan nyawa," tutupnya.

Baca Juga: 7 Makanan Pemicu Kanker Menurut Dokter Spesialis Gizi, Bukan Dilarang tapi Wajib Dibatasi!