Growthmates, journaling kerap dianggap sebagai aktivitas yang membutuhkan waktu lama dan harus dilakukan dengan menulis banyak hal. Tak sedikit pula yang menganggap kebiasaan ini terlalu berlebihan atau bahkan tidak memberikan manfaat yang nyata.
Padahal, menurut dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran UPI, journaling dapat dilakukan dengan cara yang sederhana dan singkat.
dr. Elvine juga mengatakan, aktivitas tersebut justru dapat membantu seseorang mengenali kondisi emosional, perilaku, hingga pola pikir otomatis yang muncul dalam keseharian.
"Katanya, journaling itu susah banget. Atau ada yang bilang, journaling itu lebay. Ada yang bilang juga, journaling itu terlalu panjang dan akhirnya nggak membantu apa-apa," terang dr. Elvine, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram @malakaproject.id, Jumat (11/9/2026).
dr. Elvine menuturkan, pola journaling yang tepat dapat digunakan sebagai sarana untuk menilai tiga hal penting dalam diri seseorang, yakni kondisi emosional, perilaku, serta pola pikir otomatis.
"Sebenarnya, pola journaling yang kita lakukan itu untuk menilai kondisi emosional, yang kedua adalah perilaku kita, dan yang ketiga adalah pola pikir otomatis kita," katanya.
Menurut dr. Elvine, ketiga aspek tersebut saling berkaitan karena manusia tidak dapat dipisahkan dari pola kognitif, emosi, dan perilaku.
Baca Juga: Cara Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Banjir Berita Negatif Menurut Psikolog
Sementara itu, berbagai kejadian dalam kehidupan berlangsung secara dinamis dan dapat dialami oleh siapa saja.
"Kenapa? Karena manusia itu tidak bisa dipisahkan dari pola kognitif, emosi, dan perilaku. Apa yang terjadi di kehidupan itu sifatnya dinamis, dan sifatnya bisa kena siapa aja," jelasnya.
Namun, cara setiap orang merespons suatu kejadian bisa berbeda. dr. Elvine mengatakan, respons yang muncul sering kali merupakan pola otomatis yang terbentuk dari pengalaman masa lalu.
"Bagaimana cara kita merespon ternyata adalah pola otomatis yang berasal dari masa lalu," tuturnya.
Karena itu, lanjut dr. Elvine, journaling tidak harus dilakukan dalam bentuk tulisan panjang.
Dengan pola yang tepat, aktivitas tersebut dapat menjadi cara sederhana untuk membantu seseorang mengenali apa yang sedang dirasakan, bagaimana dirinya berperilaku, serta pola pikir apa yang muncul ketika menghadapi suatu situasi.
"Kita akan belajar bareng gimana caranya melakukan journaling yang singkat, tapi punya efek terapetik buat kita semua," pungkas dr. Elvine.
Baca Juga: Musik dan Kesehatan Mental: Teman Sederhana di Tengah Tekanan Hidup