Di tengah tantangan besar yang dihadapi sistem layanan kesehatan di berbagai negara kawasan Asia-Pasifik, penguatan literasi kesehatan menjadi krusial dalam membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatan mereka. Memperingati International Self-Care Day, APSMI (Asia-Pacific Self Medication Industry) menekankan pentingnya edukasi publik, pengobatan mandiri yang bertanggung jawab, serta kolaborasi lintas sektor sebagai pilar utama dalam memperkuat sistem kesehatan di Asia-Pasifik.

Merawat diri (self-care) didefinisikan sebagai kemampuan individu, keluarga, dan masyarakat untuk mempromosikan kesehatan, mencegah penyakit, memelihara kesehatan, serta mengatasi penyakit baik dengan atau tanpa bantuan tenaga medis. Didukung literasi kesehatan yang memadai, self-care memungkinkan masyarakat menangani keluhan kesehatan ringan secara mandiri sebagai langkah awal, sekaligus mampu mengenali kapan waktu yang tepat untuk berkonsultasi dengan dokter. World Health Organization (WHO) menilai intervensi self-care sebagai bagian penting dalam mewujudkan kesehatan bagi semua orang dan mempercepat cakupan kesehatan semesta (Universal Health Coverage/UHC) tanpa kendala finansial.

Baca Juga: Jangan Sepelekan! 7 Kebiasaan Ini Bisa Mempercepat Penurunan Kesehatan Setelah Usia 50

Rachmadi Joesoef, Chairman Asia-Pacific Self-Medication Industry (APSMI), memaparkan, “Berbagai bukti menunjukkan bahwa self-care yang bertanggung jawab memberikan dampak positif yang signifikan, tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi sistem kesehatan dan perekonomian."

Berdasarkan laporan riset sosio-ekonomi tahun 2026 yang dirilis oleh Global Self-Care Federation (GSCF), self-care yang bertanggung jawab mampu:

  • Menghemat sekitar US$144 miliar (setara Rp2.200 triliun lebih) per tahun pada anggaran kesehatan global;
  • Menghemat sekitar 2,2 jam waktu pelayanan dokter;
  • Menghasilkan tambahan 43,6 miliar hari produktif; serta
  • Meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.

"Estimasi lebih lanjut menunjukkan, dengan dukungan kebijakan peningkatan literasi kesehatan, akses terhadap obat bebas (OTC) yang terjamin kualitasnya, serta kerangka regulasi yang kondusif, manfaat sosial dan ekonomi dari self-care ini dapat meningkat hingga 50% pada tahun 2040,” lanjut Rachmadi dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (23/7/2026).

Sementara itu, Greg Perry, Director-General Global Self Care Federation (GSCF), menambahkan, "Ketika diintegrasikan secara penuh, self-care memberikan tingkat pengembalian investasi (return on investment) yang sangat tinggi: memberdayakan individu, mendukung komunitas, dan menjadi solusi paling efisien (best buy) bagi sistem kesehatan global yang tengah menghadapi tekanan finansial."

Setiap kasus penyakit ringan yang berhasil ditangani secara mandiri di rumah akan memberikan kesempatan bagi pasien dengan kasus serius untuk mendapatkan penanganan medis lebih cepat di rumah sakit. Self-care menjaga kapasitas tenaga kesehatan yang terbatas dengan mengedukasi masyarakat agar mampu mengelola gejala penyakit ringan secara mandiri. Hal ini membuat dokter dapat lebih fokus pada penanganan kasus-kasus medis yang kompleks dan mengoptimalkan sumber daya yang ada.

Namun, APSMI menegaskan bahwa pengobatan mandiri bukan berarti mengonsumsi obat secara sembarangan. Self-care yang bertanggung jawab membutuhkan pengetahuan yang cukup, termasuk kemampuan memilih obat bebas secara tepat, memahami informasi pada label dan kemasan produk, mengikuti petunjuk penggunaan, serta mengenali gejala-gejala yang memerlukan pemeriksaan dokter.

"Self-care yang bertanggung jawab dimulai dari literasi kesehatan. Ketika masyarakat memiliki pengetahuan dan kepercayaan diri untuk mengelola gangguan kesehatan ringan dengan tepat, mereka tidak hanya meningkatkan kualitas kesehatan pribadi, tetapi juga membantu sistem layanan kesehatan fokus pada pasien yang membutuhkan penanganan medis kompleks. Peningkatan literasi kesehatan adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi erat antara regulator, tenaga medis, industri, akademisi, dan masyarakat," jelas Rachmadi Joesoef.

Momentum ini juga menjadi jembatan menuju penyelenggaraan APSMI Self-CARER Bali Summit 2026. Pertemuan regional ini akan mempertemukan para regulator, pembuat kebijakan, pakar kesehatan global dan regional, serta para pemimpin industri se-Asia-Pasifik untuk mendiskusikan penguatan ekosistem self-care melalui panduan berbasis bukti (evidence-based), peningkatan literasi kesehatan, serta akses yang lebih luas terhadap produk self-care yang aman dan berkualitas tinggi.

Sebagai asosiasi regional yang menaungi industri swamedikasi di Asia-Pasifik, APSMI terus mempererat kolaborasi dengan regulator dan pemangku kepentingan guna mendorong kebijakan berbasis bukti yang mendukung self-care yang aman. Upaya ini dilakukan melalui berbagai inisiatif edukasi publik, dialog kebijakan, serta kemitraan lintas sektor untuk meningkatkan literasi kesehatan sekaligus memperluas akses obat mandiri yang berkualitas.

Upaya memajukan literasi kesehatan juga akan menjadi salah satu topik diskusi utama dalam ajang APSMI Bali Summit 2026 yang akan digelar pada 29 Oktober hingga 1 November 2026. Forum ini menjadi wadah strategis bagi para peserta untuk berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam merumuskan kebijakan yang mengintegrasikan self-care ke dalam sistem kesehatan nasional guna mendukung pencapaian Universal Health Coverage (UHC).