Penyanyi dan aktivis lingkungan Tasya Kamila, yang merupakan alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), membagikan laporan kontribusinya kepada publik melalui Instagram pada 24 Februari 2026. Unggahan tersebut menjadi respons atas polemik yang mencuat terkait pengabdian para awardee LPDP setelah menyelesaikan studi.
Dalam pernyataannya, Tasya menegaskan komitmennya untuk kembali dan berkontribusi di Indonesia setelah menempuh studi S2 Public Administration in Energy and Environmental Policy di Columbia University, Amerika Serikat, pada 2016–2018 dengan IPK 3,75.
Ia menjelaskan bahwa ketertarikannya pada isu energi dan keberlanjutan telah tumbuh sejak remaja, ketika ditunjuk sebagai Duta Lingkungan Hidup oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2005.
Baca Juga: Kasus Dwi Sasetyaningtyas, Bos LPDP: Lu Pakai Duit Pajak, Beasiswa Bukan Hadiah Itu Amanah
“Saya memilih jurusan energi dan lingkungan karena pengalaman saya sebagai Duta Lingkungan Hidup sejak 2005,” ujar Tasya.
Aktif Sejak Masa Studi
Selama menempuh pendidikan di New York, Tasya aktif di organisasi mahasiswa yang berkaitan dengan isu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia juga sempat menjalani magang di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia, serta mengembangkan proyek Desa Mandiri Energi di Sumba, Nusa Tenggara Timur.
Tasya menyelesaikan kewajiban masa bakti LPDP dengan skema 2n+1 pada periode 2018–2023 dan kembali ke Indonesia tepat waktu sesuai komitmen.
Baca Juga: Geger Kasus Dwi Sasetyaningtyas, Kemenristekdikti Perketat Seleksi dan Monitoring Penerima LPDP
Dirikan Green Movement Indonesia
Sepulang studi, Tasya tetap aktif sebagai Duta Lingkungan Hidup KLHK, termasuk menjadi bagian dari Dewan Pertimbangan Kalpataru 2022. Ia juga konsisten mengedukasi masyarakat mengenai pemilahan sampah dan pengolahan kompos.
Salah satu langkah konkret yang ia inisiasi adalah mendirikan Green Movement Indonesia, sebuah gerakan berbasis komunitas yang kini memiliki lebih dari 500 relawan. Programnya mencakup kolaborasi penyediaan dropbox sampah bersama sejumlah perusahaan FMCG, kegiatan penanaman mangrove, reboisasi, hingga kampanye ekonomi sirkular.
“Saya mendirikan Green Movement Indonesia dan membentuk komunitas lebih dari 500 relawan,” tulisnya di Instagram.
Baca Juga: Mengenal Sosok Sudarto, Plt Dirut Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)
Tasya juga bekerja sama dengan berbagai kementerian, seperti KLHK, ESDM, Kementerian Keuangan, hingga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam rangka sosialisasi program-program negara. Ia tercatat telah menghadiri lebih dari 100 acara sebagai pembicara, mengunjungi 50 lebih universitas dan sekolah, serta menjangkau lebih dari 10.000 pemuda.
“Saya sudah menghadiri lebih dari 100 acara sebagai pembicara dan mengunjungi 50+ universitas/sekolah,” ucapnya.
Edukasi Beasiswa hingga Industri Kreatif
Tak berhenti pada isu lingkungan, Tasya juga aktif membagikan tips beasiswa melalui media sosial dan platform pembelajaran daring. Konten edukasinya disebut telah ditonton lebih dari satu juta kali.
“Saya juga berbagi tips beasiswa di media sosial yang ditonton lebih dari 1 juta kali,” kata Tasya.
Di ranah industri kreatif, ia merilis lagu anak berjudul “Apa Kabar” bersama Arrasya yang meraih penghargaan di Anugerah Musik Indonesia 2024.
Kini, sebagai ibu rumah tangga, Tasya tetap berbagi pengalaman seputar parenting dan kesehatan anak melalui Instagram serta kanal YouTube pribadinya. Ia menegaskan bahwa kontribusi tidak berhenti setelah masa bakti formal selesai.
“Pengabdian tidak berhenti setelah masa bakti, tapi seumur hidup,” tegasnya.
Kisah Tasya Kamila menjadi gambaran bahwa kontribusi alumni LPDP dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari kebijakan, gerakan komunitas, edukasi publik, hingga karya kreatif. Baginya, pengabdian bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan komitmen jangka panjang yang menjadi bagian dari gaya hidup dan tanggung jawab sebagai warga negara.