Selain menyoroti dampak kesehatan, Dokter Tirta juga mengkritik komunikasi pemerintah dalam menangani persoalan karhutla dan polusi udara. Menurutnya, penanganan bencana lingkungan membutuhkan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, bukan saling melempar tanggung jawab.

Ia menilai, pemerintah perlu memastikan komunikasi berjalan baik mulai dari tingkat daerah hingga pusat. Dengan demikian, persoalan dapat ditangani secara terkoordinasi dan tidak terus berulang setiap tahun.

"Enggak ada yang nyalahin presiden. Ini salah semuanya. Ya, salah pusat, salah daerah. Kan daerah dan pusat harusnya tersinkronisasi," katanya.

Ia menambahkan, ketika terjadi persoalan dalam penanganan karhutla, perlu ada evaluasi terhadap komunikasi dan koordinasi antarlembaga.

"Wali kota lapor ke gubernur, gubernur lapor ke menteri, menteri lapor ke presiden. Kalau ada sesuatu yang enggak beres, berarti ada yang salah antara komunikasi top and bottom level. Enggak usah saling nyalahin," tegasnya.

Menurut Dokter Tirta, fokus utama seharusnya bukan mencari pihak yang paling bersalah, melainkan memastikan kejadian serupa tidak terulang pada masa mendatang. Upaya tersebut membutuhkan mitigasi dan langkah pencegahan yang lebih serius.

"Ini udah bukan soal nyalahin. Gimana caranya ini enggak terulang lagi di masa depan. Itu namanya mitigasi," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa meningkatnya suhu bumi dan potensi kebakaran lahan membuat persoalan karhutla perlu diantisipasi secara berkelanjutan. Penanganan yang hanya berfokus pada kondisi saat ini tanpa strategi pencegahan jangka panjang dinilai belum cukup.

Di sisi lain, Dokter Tirta turut membagikan kebiasaannya memantau kualitas udara sebelum melakukan aktivitas olahraga di luar ruangan. Menurutnya, kondisi udara menjadi salah satu pertimbangan penting, terutama ketika seseorang melakukan olahraga dengan intensitas tinggi.

Ia mengaku kerap memeriksa indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) sebelum berlari. Jika kualitas udara sedang buruk, ia memilih berolahraga di dalam ruangan menggunakan treadmill.

"Aku kalau lari tuh lihatin AQI. Kalau AQI 100 atau 150, aku lari treadmill. Tapi kalau sepeda masih aman. Yang penting zona HR," ungkapnya.

Ia juga menjelaskan, ketika seseorang berlari dengan intensitas tinggi hingga mencapai zona detak jantung tiga atau empat, frekuensi dan kedalaman pernapasan akan meningkat. Akibatnya, volume udara yang masuk ke paru-paru juga semakin besar.

"Jadi gini, lari itu kan zona HR-nya bisa tiga atau empat. Berarti karena zona tiga, zona empat, jantung berdetak cepat. Dan kita akan mengisap udara itu terlalu dalam. Inspirasi maksimal. Sehingga polutan bisa terserap sampai dalam," jelasnya.

Karena itu, ia menyarankan masyarakat mempertimbangkan olahraga di dalam ruangan ketika kualitas udara sedang buruk, khususnya untuk aktivitas berintensitas tinggi seperti lari interval.

"Kalau polutan gini ya, pakai masker, sepedaan, atau motor, masih aman. Tapi kalau udah lari yang nge-push interval, mending indoor. Karena makin masuk ke dalam paru-paru ya," pungkasnya.

Baca Juga: Kabut Asap Lintas Negara Makin Parah, Greenpeace Desak Pemimpin ASEAN Berhenti Basa-basi