Growthmates, fenomena downgrade lifestyle atau penurunan gaya hidup semakin ramai diperbincangkan di media sosial. Perilaku ini terlihat dari keputusan masyarakat mengurangi pengeluaran, beralih ke produk yang lebih murah, hingga menunda kebutuhan yang dinilai belum mendesak.
Di balik tren tersebut, terdapat gambaran tentang kondisi daya beli dan ketahanan keuangan rumah tangga, khususnya kelompok kelas menengah.
Pakar Perilaku Konsumen IPB University, Prof. Megawati Simanjuntak, memaparkan, dalam kajian ilmu keluarga dan konsumen, perilaku tersebut merupakan bentuk strategi koping atau cara keluarga menyesuaikan diri untuk menghadapi tekanan ekonomi.
“Dalam kajian ilmu keluarga dan konsumen, ini disebut strategi koping, yaitu cara keluarga menyesuaikan diri agar tetap bertahan. Berhemat dan mengganti produk dengan yang lebih murah merupakan bagian dari upaya tersebut, selain mencari tambahan penghasilan,” paparnya, sebagaimana Olenka kutip dari laman resmi IPB University, Selasa (3/11/2026).
Menurut Prof. Megawati, ada dua hal menarik dari fenomena downgrade lifestyle saat ini. Pertama, penyesuaian gaya hidup tersebut banyak dilakukan kelompok kelas menengah yang selama ini dianggap relatif aman secara ekonomi. Kedua, perubahan pola konsumsi kini semakin terbuka dibicarakan di media sosial, bahkan menjadi konten yang dibagikan kepada publik.
“Dulu, mengganti kopi kafe dengan kopi saset mungkin cukup disimpan sendiri. Sekarang, justru diceritakan,” ungkapnya.
Meski terlihat serupa, Prof. Megawati menilai, alasan di balik keputusan menurunkan gaya hidup bisa sangat berbeda. Sebagian konsumen memang sengaja menyederhanakan pengeluaran sebagai bagian dari pengelolaan keuangan. Namun, bagi sebagian lainnya, langkah tersebut dilakukan karena kondisi keuangan semakin tertekan.
Di kalangan kelas menengah, fenomena ini cenderung dipicu keterpaksaan. Pendapatan yang tidak banyak bertambah, kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, serta kewajiban cicilan membuat ruang keuangan keluarga semakin terbatas.
“Dari luar, penghematannya tampak sama, padahal latarnya bisa berbeda. Jika dilakukan atas kesadaran mengelola keuangan, perilaku ini menjadi positif karena mengurangi tekanan gengsi berbelanja. Namun, jika karena daya tahan keuangan keluarga menipis, kondisi itu menjadi sinyal yang perlu diwaspadai,” tuturnya.
Tekanan tersebut juga berkaitan dengan posisi kelas menengah yang umumnya tidak banyak tersentuh bantuan sosial. Kondisi ini membuat sebagian rumah tangga berisiko semakin rentan ketika menghadapi guncangan ekonomi.
Baca Juga: Lifestyle Downgrade Jadi Kunci Bertahan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi