Growthmates, urusan buang air besar (BAB) mungkin bukan topik yang sering dibicarakan. Namun, perubahan kecil seperti warna feses mendadak hitam, muncul darah, atau diare yang tak kunjung berhenti ternyata bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan dari kondisi tubuh.

Perubahan BAB memang tidak selalu berarti penyakit serius. Pola makan, asupan cairan, obat-obatan, hingga aktivitas sehari-hari juga dapat memengaruhi warna, bentuk, dan frekuensi feses.

Namun, jika perubahan tersebut berlangsung terus-menerus atau muncul bersama keluhan lain, sebaiknya jangan dianggap sepele. Mengutip ulasan EatingWell pada Jumat (23/10/2026), ada enam perubahan saat BAB yang perlu diperhatikan:

1. Feses Hitam dan Lengket seperti Aspal

Feses berwarna hitam belum tentu berarti ada masalah serius. Konsumsi obat atau suplemen tertentu, seperti zat besi, juga dapat membuat warna feses menjadi lebih gelap.

Namun, Growthmates perlu lebih waspada jika feses berwarna hitam, terasa lengket, dan tampak seperti aspal. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda perdarahan pada saluran pencernaan bagian atas, termasuk lambung.

Jika disertai tubuh terasa lemas atau pusing, kondisi ini sebaiknya segera diperiksakan karena bisa membutuhkan penanganan medis.

Baca Juga: Cara Mengenali Gangguan Pencernaan pada Anak Menurut Dokter Spesialis Anak

2. Ada Darah Saat BAB

Melihat darah di toilet setelah BAB tentu bisa membuat khawatir. Meski jumlahnya sedikit, kondisi ini tetap sebaiknya tidak diabaikan.

Darah berwarna merah segar dapat berasal dari wasir atau luka di sekitar anus. Namun, perdarahan juga bisa berkaitan dengan gangguan lain pada saluran pencernaan.

Karena penyebabnya beragam, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui sumber perdarahan dan memastikan tidak ada kondisi yang lebih serius.

Baca Juga: Sederet Gejala Awal Kanker Ovarium yang Kerap Disangka Masalah Pencernaan

3. Diare Tak Kunjung Berhenti

Sesekali mengalami diare mungkin bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Masalahnya muncul ketika BAB cair terus terjadi dan tidak kunjung membaik.

Diare dapat disebabkan oleh infeksi, efek samping obat, maupun gangguan penyerapan zat gizi. Jika berlangsung lama, tubuh bisa kehilangan banyak cairan dan berisiko mengalami dehidrasi.

Segera periksa ke dokter jika diare tidak membaik, terutama apabila disertai demam, nyeri perut berat, atau tanda-tanda dehidrasi.

4. Sering Terbangun Malam karena Ingin BAB

Kebiasaan terbangun dari tidur karena ingin BAB juga patut diperhatikan jika terjadi berulang kali.

Keluhan tersebut dapat berkaitan dengan sejumlah gangguan pencernaan, termasuk penyakit radang usus seperti Crohn dan kolitis ulseratif.

Meski begitu, sering BAB pada malam hari tidak otomatis berarti seseorang mengalami penyakit tersebut. Dokter tetap perlu melihat keseluruhan gejala dan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya.

Baca Juga: Sering Dianggap Masalah Pencernaan, 6 Gejala Ini Ternyata Bisa Berkaitan dengan Kanker Ovarium

5. BAB Kurang dari Tiga Kali Seminggu

Jarang BAB juga bisa menjadi tanda tubuh sedang mengalami masalah.

Frekuensi BAB kurang dari tiga kali dalam seminggu dapat mengarah pada sembelit atau konstipasi, terutama jika feses terasa keras, sulit dikeluarkan, atau masih terasa belum tuntas setelah dari toilet.

Pola makan, kurang minum, hingga minimnya aktivitas fisik dapat memengaruhi frekuensi BAB. Karena itu, perubahan kebiasaan sehari-hari juga perlu diperhatikan.

6. Pola BAB Berubah Terus-Menerus

Growthmates, jangan hanya memperhatikan seberapa sering kamu ke toilet. Pola BAB secara keseluruhan juga penting.

Misalnya, frekuensi BAB tiba-tiba berubah dari kebiasaan sebelumnya, bentuk feses berbeda, atau muncul dorongan mendadak untuk buang air besar.

Perubahan yang menetap perlu mendapat perhatian lebih, terlebih jika disertai nyeri perut atau penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.

Meski demikian, perubahan pola BAB tidak selalu berkaitan dengan penyakit serius. Makanan dan minuman yang dikonsumsi, obat-obatan, serta aktivitas fisik juga dapat memengaruhi kondisi feses.

Jika perubahan berlangsung cukup lama atau muncul bersama gejala lain yang mengganggu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter spesialis penyakit dalam, khususnya konsultan gastroenterologi.

Pemeriksaan dibutuhkan untuk mencari tahu penyebab keluhan dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan.

Jadi, mulai sekarang jangan buru-buru menganggap perubahan BAB sebagai hal sepele. Mengenali perubahan tubuh sejak awal bisa membantu kamu mengetahui kapan kondisi tersebut masih normal dan kapan sudah waktunya mencari pertolongan medis.