Memilih produk nutrisi untuk anak bukan sekadar melihat kemasan yang menarik atau klaim manfaat yang ditawarkan. Orang tua juga perlu meluangkan waktu untuk membaca daftar komposisi agar lebih memahami kandungan di dalam produk yang akan dikonsumsi si kecil.
Menurut Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang–Pediatri Sosial, Prof. DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), kebiasaan sederhana mengecek komposisi dapat membantu orang tua memilih produk nutrisi yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak.
“Pemenuhan nutrisi anak tidak hanya berkaitan dengan jumlah asupan, tetapi juga kualitas dan keseimbangan komposisi nutrisi sejak dini. Dua tahun pertama kehidupan, atau periode 1000 Hari Pertama Kehidupan, merupakan masa penting bagi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan sistem imun anak,” terang Prof. Rini.
Pada periode ini, anak membutuhkan kombinasi zat gizi secara seimbang, mulai dari energi yang cukup, protein, lemak esensial, zat besi, zinc, vitamin, hingga mineral lainnya. Selain pemenuhan nutrisi, stimulasi yang tepat juga diperlukan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Baca Juga: Benarkah Susu Tinggi Kalori Bisa Membuat Anak Lebih Tinggi? Ini Penjelasan Prof. Aman Pulungan
Prof. Rini menjelaskan bahwa salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan orang tua adalah memahami komposisi utama produk. Dengan membaca daftar komposisi secara lebih cermat, orang tua dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai bahan utama, kandungan tambahan, serta kesesuaian produk dengan kebutuhan anak.
“Klaim dan kandungan tambahan yang ditampilkan pada kemasan sering kali hanya menggambarkan sebagian kecil dari keseluruhan produk. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya berfokus pada informasi yang ada di bagian depan kemasan, tetapi juga membaca dengan cermat dan memahami komposisi utama produk tersebut,” ujar Prof. Rini seperti dikutip, Kamis (2/7/2026).
Dalam memilih produk nutrisi anak, orang tua juga dapat memperhatikan bahan utama, sumber bahan, dan proses pengolahannya. Pada produk nutrisi berbasis susu, misalnya, orang tua dapat mencermati bagaimana bahan dasar susu dituliskan dalam daftar komposisi, serta apakah informasi mengenai sumber bahan dan proses produksi dijelaskan secara transparan.
Beberapa informasi seperti proses pengolahan dari bahan utama hingga menjadi produk akhir, maupun karakteristik produk seperti kemudahan larut saat disajikan, dapat menjadi bagian dari informasi yang membantu orang tua memahami produk secara lebih menyeluruh. Dengan begitu, orang tua tidak hanya melihat kandungan tambahan yang ditonjolkan pada kemasan, tetapi juga memahami bahan utama dan proses di balik produk tersebut.
4 Hal yang Bisa Diperhatikan Saat Cek Komposisi
Agar orang tua tidak bingung saat membaca label produk nutrisi anak, kebiasaan Cek Komposisi dapat dimulai dari beberapa langkah sederhana berikut:
-
Lihat bahan yang tercantum paling awal
Menurut Prof. Rini, bahan yang berada pada urutan pertama dalam daftar komposisi umumnya merupakan komponen yang jumlahnya paling dominan dalam produk tersebut. Karena itu, urutan komposisi dapat membantu orang tua memahami bahan utama dalam suatu produk, bukan hanya melihat klaim atau kandungan tambahan yang ditonjolkan pada bagian depan kemasan.
Pada produk berbasis susu, misalnya, orang tua dapat mencermati apakah susu tercantum sebagai salah satu bahan utama, serta bagaimana bahan tersebut dituliskan dalam daftar komposisi.
Baca Juga: Orang Tua Harap Tenang! Alergi Susu Sapi pada Anak Bisa Berkurang Seiring Pertambahan Usia
-
Cermati jenis bahan utama dan sumbernya
Selain melihat urutan bahan, orang tua juga perlu memperhatikan jenis bahan dasar yang digunakan, terutama pada produk nutrisi berbasis susu. Jika susu segar tercantum sebagai komposisi utama, hal ini dapat menunjukkan bahwa produk tersebut menggunakan susu sapi segar sebagai bahan dasar dalam formulasinya.
Melalui proses pengolahan yang lebih ringkas, bahan utama tersebut kemudian diproses menjadi produk akhir dengan tetap menjaga kualitas nutrisi alami susu tanpa melewati proses paparan panas tinggi berulang.
Sementara itu, apabila yang tercantum adalah susu bubuk, susu rekonstitusi, atau susu rekombinasi, orang tua perlu memahami bahwa bahan dasar dan proses pengolahannya dapat berbeda. Susu rekonstitusi atau rekombinasi umumnya berbahan utama susu bubuk yang dicampur kembali dengan air dan komponen tambahan lainnya, kemudian melalui tahapan pengolahan lanjutan hingga menjadi produk akhir.
Sejumlah komponen nutrisi dalam susu, seperti protein bioaktif, vitamin, dan enzim tertentu dapat bersifat sensitif terhadap paparan panas tinggi dan proses pengolahan berulang. Oleh sebab itu, informasi mengenai bahan utama, sumber bahan, dan proses pengolahan menjadi penting untuk dicermati. Dengan memahami hal ini, orang tua tidak hanya menilai produk dari kandungan tambahan, tetapi juga dari transparansi bahan, sumber susu dan proses di balik produk tersebut.
-
Kenali gula, pemanis tambahan, dan bahan tambahan pangan
Gula tambahan dapat muncul dengan berbagai nama, seperti sukrosa, glukosa, fruktosa, sirup jagung, atau maltodekstrin. Hal ini berbeda dengan laktosa, yaitu gula alami yang terdapat dalam susu. Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan jenis bahan yang digunakan, posisinya dalam daftar komposisi, serta frekuensi konsumsi produk oleh anak.
-
Lengkapi dengan membaca informasi nilai gizi
Selain daftar komposisi, tabel informasi nilai gizi juga penting untuk diperhatikan. Informasi ini membantu orang tua melihat kandungan energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral per sajian. Namun, informasi nilai gizi sebaiknya tidak dibaca secara terpisah dari daftar komposisi. Keduanya perlu dilihat bersamaan agar orang tua dapat memahami kandungan nutrisi per sajian sekaligus bahan utama yang membentuk produk tersebut.
Prof. Rini juga mengingatkan bahwa paparan gula tambahan pada usia dini perlu dikelola secara bijak. Selain dapat berkaitan dengan risiko kelebihan berat badan dan obesitas, paparan rasa manis yang konstan juga dapat memengaruhi pembentukan preferensi rasa dan kebiasaan makan anak.
Baca Juga: 7 Makanan dengan Kalsium Lebih Tinggi dari Segelas Susu
Anak yang terbiasa dengan rasa manis berpotensi lebih menyukai makanan atau minuman manis, sehingga penerimaannya terhadap pilihan makanan yang lebih alami dan seimbang, seperti sayur, buah, dan sumber nutrisi lainnya, dapat menjadi lebih terbatas.
Pada akhirnya, memilih produk nutrisi anak dapat dimulai dari langkah sederhana: membaca daftar komposisi, melihat bahan utama, memeriksa informasi nilai gizi, membatasi produk dengan gula tambahan yang tinggi, serta menyesuaikan pilihan dengan usia dan kebutuhan anak.
Prof. Rini juga menekankan bahwa tidak ada satu produk yang dapat menggantikan pola makan sehat secara keseluruhan. “Nutrisi terbaik bagi anak tetap perlu dibangun melalui variasi makanan, pola makan seimbang, dan lingkungan makan yang tepat,” tambah Prof. Rini.
Penting untuk diingat, Air Susu Ibu (ASI) tetap merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi, terutama pada awal kehidupan. Penggunaan produk nutrisi anak perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan anak, serta dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan bila diperlukan, agar pemenuhan nutrisi dilakukan secara tepat, aman, dan sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak.