Majelis Pakar Iran resmi mengumumkan Mojtaba Khamenei sebagai sosok pemimpin baru di negara tersebut menggantikan posisi Ayatullah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) pada Sabtu, 28 Februari 2026. Mojtaba Khamenei adalah putra Ali Khamenei.

Menariknya penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru Iran justru direspons datar Presiden Donald Trump. Padahal sebelumnya ia berjanji bakal memburu siapapun pengganti Ali Khamenei. Trump tampak tak terusik dengan figur baru tersebut.  

Baca Juga: Upaya Prabowo Mendamaikan Perang Iran: Rencana Terbang ke Teheran hingga Usulan Bicara Empat Mata dengan Trump

“Kita lihat saja apa yang akan terjadi,” kata Trump dalam wawancara bersama The Times of Israel dilansir Senin (9/3/2026). 

Alih-alih mau membahas sosok Mojtaba Khamenei, Trump dalam wawancara tersebut justru menyinggung persoalan lain, dia meminta Presiden Israel Isaac Herzog untuk memberikan pengampunan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang saat ini tengah dihadapkan pada masalah tuduhan korupsi. 

“Netanyahu harus segera diberikan pengampunan itu sekarang juga. Saya pikir (Herzog) melakukan hal yang buruk dengan tidak memberikannya,” kata Trump.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz mengatakan pihaknya bakal memburu siapapun pemimpin baru Iran yang dianggap melanjutkan kebijakan pendahulunya dimana kebijakan tersebut dianggap memberi ancaman bagi Israel. 

“Setiap pemimpin yang ditunjuk oleh rezim Iran untuk melanjutkan rencana menghancurkan Israel, mengancam Amerika Serikat dan dunia bebas serta negara-negara di kawasan, dan menindas rakyat Iran akan menjadi target yang jelas untuk dieliminasi,” kata Katz, dikutip Al Jazeera. 

Baca Juga: Menghitung Dampak Perang Iran-Israel dan AS Terhadap Ekonomi Indonesia

Katz mengatakan, Israel tak peduli pada sosok pemimpin baru Iran, tetapi selama pemimpin baru itu dianggap sebagai ancaman, maka mereka bakal memburunya habis habisan. 

“Tidak peduli siapa namanya atau di mana dia bersembunyi,” ujarnya.