Prof. Zubairi juga menyoroti tingginya kasus hipertensi pada kelompok usia lanjut. Ia menyebut tekanan darah tinggi sebagai salah satu faktor risiko terbesar penyebab stroke.
“Penting banget untuk yang usia di atas 60 tahun. Itu dua per tiga ada darah tinggi. Dan darah tinggi memudahkan timbulnya stroke,” ungkapnya.
Karena itu, penderita hipertensi diminta disiplin menjalani pengobatan jangka panjang sesuai anjuran dokter.
“Seringkali hampir semuanya memerlukan obat darah tinggi seumur hidup,” katanya.
Tak hanya itu, ia juga mengingatkan pentingnya menghentikan kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol karena keduanya dapat meningkatkan risiko stroke secara signifikan.
“Merokok itu memudahkan timbulnya stroke. Demikian pula minum alkohol,” tegas Prof. Zubairi.
Bagi masyarakat yang memiliki penyakit penyerta seperti diabetes atau gangguan irama jantung, termasuk fibrilasi atrium, Prof. Zubairimenekankan agar pengobatan dilakukan secara tepat dan teratur.
“Kalau ada kencing manis, ya harus diobati dengan baik dan benar. Kalau ada gangguan irama jantung, misalnya ada fibrilasi atrium, itu mudah menimbulkan stroke. Juga harus diobati dengan baik dan benar,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prof. Zubairi pun kembali mengingatkan pentingnya komunikasi yang baik antara pasien dan dokter agar penanganan penyakit dapat berjalan optimal.
“Karena itu komunikasi kita kalau berobat ke dokter harus baik dengan dokternya. Dan harus berani kita bertanya agar mendapatkan manfaat yang terbaik dan kejelasan, supaya kita bisa bebas stroke,” ujarnya.
Ia pun menegaskan bahwa stroke bukanlah penyakit yang tidak bisa dihindari.
“Stroke bisa dicegah,” tutup Prof. Zubairi.
Baca Juga: Benarkah Hubungan Intim Bisa Picu ISK? Ini Penjelasan Dokter Ahli