Di saat yang sama, proses meditasi juga membantu merangsang peningkatan hormon tidur (melatonin), mendongkrak hormon serotonin, memperlambat detak jantung, menurunkan tekanan darah, serta mengaktifkan bagian otak yang memegang kendali penuh atas siklus tidur manusia. 

Menariknya, selain memperbaiki pola istirahat malam, meditasi rutin juga menyimpan segudang manfaat jangka panjang lainnya, seperti memperbaiki suasana hati (mood), meredakan kecemasan, meningkatkan fokus kognitif, membantu mengelola hipertensi, hingga mengurangi peradangan dalam tubuh.

Risiko Medis yang Perlu Diwaspadai

Meskipun secara umum meditasi dikategorikan sebagai praktik yang sangat aman dan minim risiko bagi mayoritas masyarakat, langkah kewaspadaan tetap harus diperhatikan bagi beberapa kelompok individu. 

Bagi seseorang yang memiliki riwayat kondisi kesehatan mental tertentu, meditasi terkadang dapat memicu efek samping yang tidak diinginkan seperti peningkatan rasa cemas yang intens, pusing, perubahan suasana hati yang ekstrem, hingga sensasi depersonalisasi.

Kasus efek samping ini memang tergolong sangat langka terjadi di lapangan. Namun, jika kamu merasa ragu atau memiliki kekhawatiran terkait kondisi psikologis tertentu sebelum memulai rutinitas meditasi ini, sangat disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau psikolog klinis agar kamu bisa mendapatkan panduan relaksasi yang paling aman dan tepat untuk kesehatan jiwamu.