Polemik surat kesetaraan pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali memanas. Di tengah gugatan terhadap dokumen tersebut di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), muncul tawaran yang cukup menohok dari praktisi pendidikan Tiurma Mercy Sihombing.
Mercy secara terbuka menawarkan Gibran untuk menempuh pendidikan kesetaraan Paket C apabila surat kesetaraannya kelak dibatalkan melalui proses hukum. Namun, ada satu konsekuensi yang tak bisa ditawar: Gibran harus mengikuti program tersebut sesuai ketentuan, yakni enam semester atau tiga tahun.
Tawaran itu disampaikan Mercy saat berbincang dengan jurnalis senior Bambang Harymurti di kanal YouTube Retorika Show. Mercy yang merupakan pengelola lembaga pendidikan homeschooling sekaligus Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) mengatakan saat ini tidak ada jalur akselerasi untuk menyelesaikan Paket C secara kilat.
"Kalau dia sudah mau pakai C ya setara SMA gitu, saat ini tidak ada akselerasi, harus 6 semester. Artinya harus 3 tahun dan harus lulus. Nah, harus ikut kelas 1, 2, 3," kata Mercy dikutip Rabu (23/09/2026).
Baca Juga: Dari Mayor Teddy Hingga Bahlil, Ini Kandidat yang Siap Jadi Wapres Pengganti Jika Gibran Dipecat
Paket C sendiri merupakan program pendidikan kesetaraan yang setara dengan jenjang SMA. Data pendidikan pemerintah juga mengklasifikasikan Paket C sebagai pendidikan setara SMA/MA, mencakup tingkat 10 sampai 12.
Menariknya, Mercy bahkan membuka pintu khusus bagi Gibran untuk mengikuti program tersebut di lembaga pendidikan yang dikelolanya. Tawaran itu disampaikan secara langsung dan terbuka.
"Malah khusus untuk Mas Gibran nih. Mumpung ada waktu nih ya. Kalau mau ayo Paket C di tempat saya. Why not? Masih ada nih Paket C-nya," ujar Mercy.
Artinya, jika surat kesetaraan yang kini menjadi objek sengketa benar-benar dibatalkan, opsi yang ditawarkan Mercy bukan sekadar mengurus dokumen baru. Gibran, menurut skenario yang disampaikan Mercy, harus kembali menjalani proses pendidikan kesetaraan sesuai aturan yang berlaku.
Baca Juga: Projo Blak-blakan Mau Prabowo-Gibran Lanjut 2 Periode, Budi Arie: Kartunya Masih Dikocok
Bambang Harymurti pun memastikan kembali durasi pendidikan tersebut. Ia menanyakan apakah Gibran memang harus menyediakan waktu hingga tiga tahun untuk menyelesaikan Paket C.
"Walaupun karena enggak ada akselerasi ya mesti 3 tahun ya," kata Bambang.
"Ee 3 tahun. Mesti 3 tahun. Iya," jawab Mercy.
Mercy kemudian menjelaskan bahwa persoalannya bukan hanya soal waktu. Ada pula persyaratan administratif yang harus dipenuhi sebelum seseorang dapat mengikuti pendidikan kesetaraan tersebut.
Salah satunya berkaitan dengan bukti pendidikan pada jenjang sebelumnya.
"(Syaratnya) kan dia juga harus ada paling enggak ada Paket B-nya kan. Itu dia punya ijazah SMP. Harus nunjukin ijazah SMP atau yang setingkat," tutur Mercy.
Dengan demikian, tawaran Paket C tersebut bukan jalan pintas untuk mendapatkan pengakuan pendidikan. Jika benar-benar ditempuh, Gibran harus mengikuti proses pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Polemik ini mencuat karena surat kesetaraan pendidikan Gibran sedang menjadi objek gugatan di PTUN. Mercy merupakan salah satu pihak yang mempersoalkan produk administrasi tersebut. Ia menyebut objek gugatan bukan Gibran secara pribadi, melainkan produk administrasi yang diterbitkan pejabat di lingkungan Kementerian Pendidikan.
Baca Juga: PSI Dukung Denny Indrayana: Gugat Semua Ijazah Keluarga Jokowi
Di tengah proses hukum itu, Paket C kemudian muncul sebagai salah satu opsi apabila surat kesetaraan tersebut nantinya dinyatakan tidak berlaku. Namun, keputusan mengenai sah atau tidaknya dokumen tersebut tetap berada dalam proses hukum dan belum dapat dianggap telah dibatalkan.
Program pendidikan kesetaraan sendiri bukan program yang bisa dilewati begitu saja. Regulasi dan sistem pendidikan pemerintah menempatkan Paket C sebagai jenjang yang setara dengan SMA, sementara capaian pembelajarannya mencakup fase pendidikan kelas X hingga XII.
Karena itu, tawaran Mercy kepada Gibran punya konsekuensi yang cukup jelas: jika harus mengambil jalur tersebut, ia tidak bisa sekadar mengejar selembar dokumen, tetapi harus menjalani proses pendidikan dan memenuhi persyaratan yang berlaku.
Bagi Mercy, kepatuhan terhadap prosedur menjadi bagian penting dalam pendidikan kesetaraan. Jalur tersebut tetap tersedia, tetapi bukan berarti dapat ditempuh dengan melewati tahapan yang telah ditetapkan.