Cita-cita besar Indonesia Emas 2045 hanya bisa dicapai dengan penguatan Sumber Daya Manusia (SDM). Sebagai generasi penerus bangsa, anak-anak diharapkan tumbuh optimal sehingga mampu mencapai prestasi terbaik mereka.
Di momen Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli, Indonesia Health Development Center (IHDC) memperingatkan salah satu tantangan besar yang dihadapi Indonesia dalam upaya mengoptimalkan potensi anak-anak di Tanah Air, yakni Silent Cognitive Burden. Hal itu mengacu pada penurunan kapasitas perkembangan kognitif anak yang berlangsung perlahan akibat masalah kesehatan yang belum menjadi perhatian utama kebijakan publik sehingga berpotensi jadi krisis kognitif anak Indonesia.
“Kajian yang kami lakukan mengidentifikasi empat determinan kesehatan yang memiliki hubungan ilmiah kuat terhadap perkembangan kapasitas kognitif anak usia sekolah, yaitu gangguan refraksi yang tidak terkoreksi, defisiensi zat besi, defisiensi protein, dan gangguan perilaku,” kata Direktur Eksekutif IHDC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Dari sejumlah data diketahui, determinan gangguan penglihatan dialami lebih dari 8 juta anak Indonesia bila dihitung dari analisis estimasi studi IHDC, begitu pun dengan gangguan defisiensi besi yang diperkirakan dialami lebih dari 7 juta balita. Bahkan, gangguan perilaku cemas menurut data Kemenkes dialami lebih dari 300 ribu anak usia sekolah.
Menurut Ketua Dewan Pembina IHDC dan Menteri Kesehatan Republik Indonesia 2014-2019, Prof. Nila F Moeloek, keempat masalah tersebut tidak hanya memengaruhi kesehatan anak dalam jangka pendek, tetapi juga berpotensi mengurangi kemampuan belajar, memori kerja, perhatian, kreativitas, hingga kapasitas membangun cita-cita dan inovasi.
"Selama ini kita menganggap gangguan penglihatan, anemia, atau masalah perilaku sebagai persoalan kesehatan individual. Padahal, bila terjadi pada jutaan anak Indonesia, dampaknya dapat memengaruhi kualitas modal manusia nasional. Yang hilang bukan hanya nilai rapor, melainkan juga potensi berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan," ujar Nila F Moeloek.
Kajian IHDC juga memperkenalkan konsep Cognitive and Future Imaginative Capacity, yaitu kapasitas neurokognitif yang memungkinkan seorang anak belajar secara efektif, berpikir kritis, memecahkan masalah, berkreasi, dan membangun orientasi masa depan.
"Kajian IHDC ini mengusulkan model Community Framework yang menjelaskan bahwa perkembangan kapasitas kognitif merupakan hasil interaksi antara faktor biologis, kualitas sensorik, fungsi neurokognitif, perilaku, dan lingkungan sosial, dan sebaiknya mulai diukur sejak usia anak, agar anak bisa belajar memetakan imajinasi dan trajektori masa depannya," ungkap Direktur Eksekutif IHDC Dr. Ray Wagiu Basrowi, kembali.
Berdasarkan analisis prioritas, IHDC menempatkan gangguan refraksi yang tidak terkoreksi sebagai determinan dengan peluang intervensi terbesar karena prevalensinya tinggi, berdampak langsung terhadap proses belajar, dan dapat dikoreksi melalui skrining serta penggunaan kacamata yang relatif sederhana.
Selain itu, IHDC juga merekomendasikan penguatan pencegahan anemia defisiensi besi, peningkatan kualitas nutrisi anak sekolah, serta deteksi dini gangguan perilaku sebagai bagian dari strategi pembangunan modal manusia.
"Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan generasi yang sehat. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu berpikir, berkreasi, memecahkan masalah, dan berinovasi. Investasi terhadap perkembangan otak anak adalah investasi terhadap daya saing bangsa," pungkas Nila Moeloek.