Bola basket Indonesia terus bergerak dari sekadar kompetisi olahraga menuju sebuah industri yang memiliki nilai ekonomi, pasar serta ekosistem yang semakin kuat. Transformasi kompetisi profesional menjadi salah satu fondasi penting untuk menjadikan basket sebagai bagian dari pertumbuhan industri olahraga nasional.

Semangat tersebut sejalan dengan pesan Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir saat membuka Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 di Cendrawasih Hall, JICC Senayan, Jakarta pada Minggu (13/9). Pengembangan olahraga profesional perlu ditempatkan sebagai sebuah investasi jangka panjang, bukan semata-mata sebagai iaya penyelenggaraan kompetisi.

Baca Juga: Victor R. Hartono: Olahraga Bisa Jadi Jalan Indonesia Menuju Negara Maju

Dalam konteks bola basket, Direktur Utama Indonesian Basketball League (IBL), Junas Miradiarsyah, menjelaskan bahwa transformasi liga dilakukan secara bertahap untuk membangun kompetisi yang tidak hanya kuat secara olahraga, tetapi juga memiliki nilai industri.

Tahun 2020 menjadi titik awal IBL membangun fondasi baru kompetisi profesional. Penguatan dilakukan mulai dari tata kelola liga dan jadwal pertandingan, pengembangan komersial hingga mendorong klub membangun basis yang semakin kuat di kota masing-masing. Fondasi tersebut kemudian memasuki fase baru pada 2023 melalui penerapan format home and away. Perubahan ini membuat pertandingan tidak lagi hanya menjadi milik liga, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas olahraga dan hiburan di berbagai kota.

Klub mendapatkan kesempatan lebih besar untuk membangun identitas, mengembangkan basis penggemar, mendekatkan diri dengan komunitas lokal serta menciptakan potensi bisnis di wilayah masing-masing. Dampaknya mulai terlihat dari pertumbuhan jumlah penonton. “Penonton naik 400 persen dari format series ke format home and away. Ini merupakan indikator bahwa Insya Allah kita sudah mengarah ke yang lebih tepat,” ujar Junas.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa pertandingan basket memiliki potensi lebih luas dari sekadar aktivitas olahraga. Kehadiran pertandingan di berbagai kota dapat membuka ruang bagi sponsor, penjualan tiket, merchandise, aktivasi brand, media, konten digital, komunitas hingga pelaku usaha lokal.

Dengan demikian, investasi dalam kompetisi tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan pertandingan berkualitas, tetapi juga untuk membangun rantai ekonomi industri basket yang melibatkan semakin banyak pihak. Menurut Junas, setiap klub perlu memiliki pasar dan basis penggemar yang kuat arena semakin besar hubungan klub dengan masyarakat di kotanya, semakin besar pula potensi nilai ekonomi yang dapat dikembangkan.

Konsep tersebut menjadi penting dalam pembangunan industri olahraga nasional. Klub tidak hanya berfungsi sebagai peserta kompetisi, tetapi dapat berkembang menjadi sebuah brand olahraga dengan basis pendukung, aset komersial serta hubungan yang kuat dengan komunitasnya.

Skala kompetisi IBL yang berkembang juga membuat basket semakin dekat dengan masyarakat. Pertandingan yang berlangsung diberbagai kota memberikan kesempatan kepada daerah untuk menjadi bagian langsung dari ekosistem kompetisi profesional.

Potensi pasar basket Indonesia sendiri dinilai masih sangat besar. Berdasarkan data yang dipaparkan Junas dalam ISS 2026, tingkat ketertarikan terhadap basket di kalangan anak muda Indonesia berada diatas 80 persen. “Ini adalah potensi yang sangat luar biasa untuk kita kembangkan bersama-sama,” tandas Junas.

Besarnya ketertarikan generasi muda menjadi modal penting bagi perkembangan industri basket. Pasar tersebut tidak hanya berkaitan dengan penonton pertandingan, tetapi juga konsumsi konten digital, merchandise, komunitas basket, aktivitas grassroots, sponsorship, hingga berbagai produk dan pengalaman yang dapat berkembang di sekitar olahraga basket.

Karena itu, investasi yang dilakukan saat ini diharapkan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan kompetisi dalam jangka pendek, tetapi membangun fondasi agar basket mempunyai nilai industri yang semakin besar dan berkelanjutan. Gambaran mengenai perkembangan industri basket juga muncul dalam sesi Champion Stage Indonesia Sports Summit 2026 yang menghadirkan para juara dari liga profesional bola basket, sepak bola, dan voli.

Juara IBL 2026, Bogor Hornbills, hadir melalui owner Leo Gautama bersama Daniel Wenas. Kehadiran Hornbills menjadi salah satu contoh bagaimana klub basket dapat membawa identitas daerah sekaligus membangun pasar baru.

Leo melihat perkembangan kompetisi dan meningkatnya popularitas basket sebagai peluang besar bagi industri olahraga Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. “Saya apresiasi IBL yang telah mengemas liganya dengan sangat baik. Kita semua harus bersiap dengan ledakan peningkatan minat pasar basket dalam tiga sampai lima tahun mendatang seiring popularitas yang terus meningkat,” ujar Leo.

Keberhasilan Bogor Hornbills menjadi juara IBL 2026 sekaligus membawa sejarah baru bagi Kabupaten Bogor memperlihatkan bagaimana klub dapat menjadi representasi daerah sekaligus bagian dari pertumbuhan industri olahraga. Pada akhirnya, perkembangan basket Indonesia tidak hanya dapat diukur dari siapa yang menjadi juara atau berapa pertandingan yang dimainkan. 

Ukurannya juga terletak pada seberapa besar kompetisi mampu menciptakan nilai ekonomi, membuka pasar, membangun fanbase, menarik investasi, memperkuat klub, mengembangkan atlet dan menggerakkan komunitas. Transformasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan IBL untuk membawa basket semakin kuat posisinya dalam industri olahraga nasional. Dari lapangan pertandingan, basket kini bergerak menjadi sebuah ekosistem dari olahraga menjadi industri.