Growthmates, menjadi pendamping pasien bukanlah peran yang mudah. Di tengah kesibukan memastikan orang terkasih mendapatkan perawatan terbaik, tak jarang kondisi kesehatan diri sendiri justru terabaikan.
Melihat pentingnya perhatian terhadap para pendamping pasien, Primaya Hospital Group menghadirkan 2.000 pemeriksaan mini medical check-up (MCU) gratis bagi pendamping pasien di 20 jaringan rumah sakit Primaya di Indonesia.
Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Pelanggan Nasional 2026, sekaligus menjadi bagian dari perayaan 20 tahun perjalanan Primaya Hospital.
Mengusung tema ’20 Years of Excellence – Care That Matters to You’, program tersebut menjadi bentuk apresiasi Primaya Hospital kepada pasien, keluarga, dan orang-orang terdekat yang selalu hadir mendampingi selama proses perawatan.
Chief Medical Officer Primaya Hospital Group, dr. Esther Ramono, mengatakan, perjalanan selama dua dekade membuat Primaya Hospital memahami bahwa di balik setiap pasien, terdapat keluarga atau orang terdekat yang ikut menjalani proses perawatan.
“Tidak jarang pendamping lebih sibuk memastikan orang yang mereka sayangi baik-baik saja hingga lupa memperhatikan kondisi dirinya sendiri. Melalui 2.000 mini MCU gratis ini, kami ingin mengajak mereka untuk sesekali memberikan perhatian kepada kesehatannya sendiri. Ini adalah bentuk apresiasi kami kepada para pendamping yang selalu hadir di sisi pasien,” tutur dr. Esther, dikutip dari keterangan resminya, Minggu (6/9/2026).
Selain memberikan pemeriksaan kesehatan gratis bagi para pendamping pasien, dr. Esther Ramono juga menyapa langsung pasien hemodialisis atau cuci darah di Primaya Hospital Bekasi Timur.
Salah satu pasien yang ditemuinya adalah Christiawan Heri, yang telah menjalani hemodialisis selama kurang lebih dua tahun di bawah perawatan dr. I Putu Arsana, Sp.PD, K-GH.
Heri mengaku merasa nyaman menjalani perawatan di Primaya Hospital Bekasi Timur. Meskipun harus menjalani hemodialisis hingga dua kali dalam seminggu dan kerap datang tanpa didampingi keluarga, ia mengatakan tetap mendapatkan perhatian dari dokter maupun perawat.
“Walaupun saya melakukan cuci darah dua kali seminggu dan biasanya tidak didampingi keluarga, di sini saya merasa dianggap sebagai keluarga oleh dokter dan perawat yang sigap dan perhatian,” tutur Heri.
Ia bahkan memiliki pengalaman sederhana yang menurutnya memberikan kesan mendalam selama menjalani perawatan.
“Ada satu kata yang membekas bagi saya. Setiap kali saya mengucapkan terima kasih, seluruh petugas di rumah sakit ini selalu menjawab, ‘Dengan senang hati’. Mungkin bagi mereka itu bagian dari ketentuan perusahaan, tetapi bagi saya, ucapan itu membuat saya merasa disambut dengan hangat dan diperlakukan tanpa diskriminasi,” lanjutnya.