Di sisi lain, lanjut Annisa, trauma finansial juga bisa tercermin dari perilaku ekstrem dalam mengelola uang.
Ada yang menjadi sangat boros hingga rela berutang demi memenuhi keinginan berbelanja, sementara sebagian lainnya justru menabung secara berlebihan sampai enggan mengeluarkan uang bahkan untuk kebutuhan diri sendiri.
"Ada perilaku yang berlebihan. Belanjanya berlebihan, boros bahkan sampai ngutang. Nabung berlebihan sampai pelit banget sama diri sendiri dan orang lain. Atau malah jadi hoarding, apa pun tuh harus stok banyak banget. Belanja terus, beli-beli terus karena takut someday ngerasa kurang," tutur Annisa.
Sebaliknya, ada pula orang yang justru merasa bersalah setiap kali membeli sesuatu untuk dirinya sendiri, meskipun pembelian tersebut sangat jarang dilakukan.
Dalam beberapa kasus, kata Annisa, trauma finansial bahkan membuat seseorang menyembunyikan kondisi keuangan, utang, maupun kebiasaan belanja dari pasangan.
"Atau bisa juga ngerasa bersalah beli barang buat diri sendiri padahal udah sangat-sangat jarang. Merahasiakan uang, pembelian, utang dari pasangan," katanya.
Lebih jauh, Annisa menekankan bahwa trauma finansial bukanlah sesuatu yang hanya dialami oleh satu pihak dalam hubungan.
Menurutnya, setiap orang dapat memiliki pengalaman dan respons yang berbeda, tergantung pada latar belakang serta pengalaman hidup yang pernah dialami.
"Nah, tapi yang namanya trauma atau luka ini enggak berarti terjadi di satu orang. Pasti akan terjadi di orang lainnya. Akan beda-beda banget untuk tiap orang. Tapi mengenali dan menerima apa yang terjadi di masa lalu bakalan bantu banget nih kamu buat healing," pungkas Annisa.
Baca Juga: Sering Abaikan Pengeluaran Kecil? Ini Risiko Besarnya Menurut Financial Planner