Growthmates, masalah keuangan ternyata tidak selalu berkaitan dengan besarnya penghasilan atau jumlah tabungan.
Bagi sebagian orang, rasa takut, cemas, hingga sulit membicarakan uang bisa berakar dari pengalaman masa lalu yang dikenal sebagai trauma atau luka finansial (financial trauma).
Certified Financial Planner, Annisa Steviani, menuturkan, trauma finansial dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan terkait uang, bahkan berdampak pada hubungan dengan pasangan.
"Apakah kamu atau suami mungkin punya trauma atau luka finansial?" tutur Annisa, dikutip dari laman Instagram pribadinya @annisast, Kamis (6/8/2026).
Menurut Annisa, salah satu tanda yang paling sering muncul adalah rasa cemas berlebihan terhadap kondisi keuangan, meski sebenarnya seseorang masih memiliki pekerjaan atau penghasilan yang stabil.
"Sering banget overthinking atau cemas soal uang? Takut enggak cukup, takut enggak bisa bayar cicilan, takut soal masa depan padahal punya kerjaan," kata Annisa.
Trauma finansial juga dapat memicu respons emosional yang berlebihan ketika topik uang dibahas.
Kondisi tersebut, kata dia, sering kali berujung pada konflik dalam rumah tangga karena salah satu pihak menjadi sangat sensitif setiap kali membicarakan keuangan.
"Ada reaksi emosional yang meledak banget kalau ngomongin uang. Jadinya bikin berantem terus sama pasangan. Pokoknya ditanya soal uang dikit tuh sensitif deh, bisa ngamuk," ungkap Annisa.
Tak hanya itu, menurut Annisa, orang yang mengalami luka finansial kerap memilih menghindari segala hal yang berkaitan dengan kondisi keuangannya.
Seperti, mereka enggan mencatat pengeluaran, tidak mau mengetahui total utang yang dimiliki, hingga terus menghindari pembahasan mengenai uang.
"Menghindari topik uang, enggak mau bahas, enggak mau nyatet keuangan. Enggak mau tahu total jumlah utang. Pokoknya menghindar dan kabur aja terus," jelasnya.
Baca Juga: Kapan Waktu yang Tepat untuk Membuka Fasilitas Kredit? Begini Penjelasan Financial Planner