Kondisi tersebut, kata dia, bisa terjadi ketika anak yang sebenarnya sudah mulai dewasa masih membutuhkan dukungan orang tua, sementara orang tua dari generasi sebelumnya sudah memasuki usia lanjut dan membutuhkan bantuan.

“Bisa dong, karena anak-anaknya sebenarnya sudah harusnya agak dewasa, tetapi masih membutuhkan orang tuanya terus. Sementara dia ternyata masih punya orang tua lagi yang sudah lansia banget,” tambah Prita.

Prita menilai, menjadi generasi sandwich bukan hanya soal membagi penghasilan untuk dua generasi, tetapi juga menghadapi tanggung jawab emosional yang besar.

Menurutnya, mereka sering berada di posisi harus mengambil keputusan untuk banyak pihak, mulai dari pendidikan anak, kebutuhan keluarga, hingga kesehatan orang tua.

Karena itu, menurut Prita, memahami kondisi finansial sejak dini menjadi hal penting agar seseorang tidak semakin terbebani ketika memasuki fase tersebut.

“Makanya kenapa sebenarnya generasi sandwich yang sesungguhnya itu umurnya 40 tahun ke atas biasanya,” pungkasnya.

Baca Juga: 90% Pekerja RI Terjebak Sandwich Generation, Tekanan Finansial Ganggu Rencana Pensiun