Istilah generasi sandwich semakin sering terdengar dalam beberapa tahun terakhir. Banyak orang menganggap generasi ini adalah mereka yang harus menanggung kebutuhan orang tua sekaligus membantu anak atau keluarga lainnya.

Namun, menurut Financial Planner sekaligus CEO & Principal Consultant ZAP Finance, Prita Hapsari Ghozie, SE, MCom, GCertFP., makna generasi sandwich yang sebenarnya memiliki konteks yang lebih spesifik.

Menurut Prita, generasi sandwich secara umum berada pada usia 40-an, ketika seseorang berada di tengah-tengah tanggung jawab besar, seperti masih mengurus anak yang membutuhkan perhatian, sekaligus mulai menghadapi kebutuhan orang tua yang memasuki usia lanjut.

“Generasi sandwich yang sesungguhnya itu, terminologi awalnya adalah mereka yang berada di usia 40-an. Di umur 40-an, kemungkinan besar kita masih punya tanggung jawab ke bawah, yaitu anak yang semakin besar dan membutuhkan ilmu parenting yang semakin banyak,” terang Prita, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram @apdcindonesia, Jumat (19/62026).

“Di sisi lain, kita juga masih punya tanggung jawab ke atas, yaitu orang tua dengan berbagai kompleksitas, termasuk kesehatan dan kebutuhan lainnya,” lanjut Prita.

Prita menuturkan, fase ini sering kali membuat seseorang terjebak di antara dua peran. Di satu sisi harus mendampingi anak yang sedang bertumbuh, tetapi di sisi lain juga mulai menjadi tempat bergantung bagi orang tua yang semakin membutuhkan perhatian.

Menurut Prita, salah satu tantangan terbesar generasi sandwich adalah kecenderungan mengutamakan semua orang hingga melupakan kebutuhan pribadi.

“Yang sering kita lupa adalah diri kita sendiri. Anak belum selesai diurus, orang tua masih terus mengurus anak cucu. Itu juga bisa dibilang sandwich generation,” jelasnya.

Baca Juga: Tips Finansial untuk Perintis dan Pewaris, Begini Strategi yang Tepat Menurut Financial Planner

Kondisi tersebut, kata dia, bisa terjadi ketika anak yang sebenarnya sudah mulai dewasa masih membutuhkan dukungan orang tua, sementara orang tua dari generasi sebelumnya sudah memasuki usia lanjut dan membutuhkan bantuan.

“Bisa dong, karena anak-anaknya sebenarnya sudah harusnya agak dewasa, tetapi masih membutuhkan orang tuanya terus. Sementara dia ternyata masih punya orang tua lagi yang sudah lansia banget,” tambah Prita.

Prita menilai, menjadi generasi sandwich bukan hanya soal membagi penghasilan untuk dua generasi, tetapi juga menghadapi tanggung jawab emosional yang besar.

Menurutnya, mereka sering berada di posisi harus mengambil keputusan untuk banyak pihak, mulai dari pendidikan anak, kebutuhan keluarga, hingga kesehatan orang tua.

Karena itu, menurut Prita, memahami kondisi finansial sejak dini menjadi hal penting agar seseorang tidak semakin terbebani ketika memasuki fase tersebut.

“Makanya kenapa sebenarnya generasi sandwich yang sesungguhnya itu umurnya 40 tahun ke atas biasanya,” pungkasnya.

Baca Juga: 90% Pekerja RI Terjebak Sandwich Generation, Tekanan Finansial Ganggu Rencana Pensiun