Film Esok Tanpa Ibu (judul internasional Mothernet) menghadirkan warna berbeda dalam lanskap perfilman Indonesia. Diproduksi oleh BASE Entertainment, Beacon Film, dan Refinery Media, film ini menggabungkan drama keluarga dengan sentuhan fiksi ilmiah—sebuah pendekatan yang masih jarang dieksplorasi secara emosional di Indonesia.
Dengan dukungan Singapore Film Commission dan Infocomm Media Development Authority, Esok Tanpa Ibu mengisahkan Rama alias Cimot, seorang remaja yang berjuang menghadapi kehilangan ibunya. Dalam kesedihan yang belum tuntas, Rama mencoba mengisi kekosongan emosional melalui kecerdasan buatan bernama I-BU—sebuah teknologi yang dirancang menyerupai kehadiran sang ibu.
Tokoh Rama diperankan oleh Ali Fikry, yang untuk pertama kalinya dipercaya memegang peran utama dengan lapisan emosi kompleks. Ia didukung aktor senior Dian Sastrowardoyo dan Ringgo Agus Rahman sebagai figur orang tua yang membingkai perjalanan batin sang tokoh utama.
Baca Juga: Cara Pandang Nucha Bachri Tentang Sosok Ibu
Ali mengaku memiliki kedekatan personal dengan karakter Cimot. Menurutnya, kebingungan dan kesepian yang dialami remaja masa kini—terutama dalam mengekspresikan perasaan—adalah realitas yang dekat dengan kehidupan generasinya.
“Karakter Cimot itu dekat banget sama aku. Anak-anak sekarang sangat terlibat dengan AI, dan kadang memang bingung mau cerita ke siapa atau gimana caranya. Perasaan itu valid, dan film ini menangkap hal tersebut,” ujar Ali.
Ia menilai Esok Tanpa Ibu bukan semata film tentang kecerdasan buatan, melainkan refleksi relasi keluarga di era digital.
Baca Juga: Life Skill Wajib Bagi Seorang Ibu Menurut Nucha Bachri
“Film ini bukan cuma soal AI, tapi tentang keluarga, kebersamaan, dan cara berkomunikasi dengan orang tua. Ini refleksi buat anak-anak seusia aku, khususnya Gen Z,” katanya.
Konflik utama film ini bertumpu pada pertemuan antara duka yang belum terolah dengan teknologi yang menawarkan kehadiran alternatif. Di titik inilah film mengajukan pertanyaan, apakah teknologi mampu benar-benar menggantikan kehangatan manusia?
Secara naratif dan visual, film ini membedakan dua bentuk kedekatan manusia—dengan alam dan dengan teknologi. Hal tersebut dijelaskan Dian Sastrowardoyo, yang juga bertindak sebagai produser.
Baca Juga: Mengenal Heni Sri Sundani, Mantan TKW yang Menjadi Ibu Bagi Ribuan Anak Petani Indonesia
“Film ini membicarakan kedekatan manusia dengan dua hal yang berbeda. Kedekatan dengan alam diwakili oleh sosok ibu, sementara kedekatan dengan teknologi diwakili oleh Cimot dan AI,” ujarnya.
Ibu dalam film ini tidak sekadar hadir sebagai figur keluarga, melainkan simbol keterhubungan manusia dengan sesuatu yang organik, hangat, dan alami. Sebaliknya, I-BU merepresentasikan dunia mesin dan logika teknologi. Dilema Rama terletak di antara dua dunia tersebut—ketika kehangatan manusia hilang, sementara teknologi menawarkan bentuk kehadiran baru yang tampak sempurna, namun hampa.
Bagi Ali Fikry, pengalaman bekerja bersama para aktor senior menjadi proses belajar yang penting. Ia menyebut suasana set sebagai ruang aman untuk bertumbuh, baik secara profesional maupun personal.
Baca Juga: Tentang Naluri Keibuan dan Mitigasi Bencana Alam
“Aku bersyukur banget bisa kerja bareng mereka. Aku belajar soal kedisiplinan, profesionalisme, dan juga kehangatan. Selama syuting, mereka seperti orang tua buat aku,” tuturnya.
Esok Tanpa Ibu juga merupakan proyek kolaborasi lintas negara. Film ini disutradarai oleh Ho Wi Ding dari Malaysia, dengan keterlibatan tim produksi dari Singapura. Kolaborasi tersebut menegaskan kesiapan sineas Indonesia untuk bersaing di panggung internasional.
Di jalur festival, film ini mencatatkan sejumlah pencapaian. Esok Tanpa Ibu meraih empat nominasi di Festival Film Tempo 2025, termasuk Film Unggulan, Aktor Utama Unggulan untuk Ali Fikry, Aktris Utama Unggulan untuk Dian Sastrowardoyo, serta Penulis Skenario Unggulan untuk Diva Apresya, Gina S. Noer, dan Melarissa Sjarief.
Film ini juga melakukan world premiere dalam program Vision Asia di Busan International Film Festival 2025, sebelum melanjutkan pemutaran perdana Indonesia di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2025 dan berkompetisi di Indonesian Screen Awards.
Baca Juga: Deretan Film Indonesia yang Pemeran Utamanya Komika
Pada akhirnya, Esok Tanpa Ibu mengajukan satu pertanyaan sederhana namun mendalam: ketika teknologi mampu meniru kehadiran, mampukah ia benar-benar menggantikan kehangatan seorang ibu?
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 22 Januari 2026, mengajak penonton menyelami kisah tentang kehilangan, keluarga, serta relasi manusia dengan teknologi dan alam di era modern.