2. Tingkatkan Porsi Tabungan dan Investasi

Langkah berikutnya adalah memperketat anggaran.

Vivian mengaku tidak mempermasalahkan seseorang sesekali menikmati pengeluaran kecil seperti membeli kopi favorit. Namun, jika targetnya adalah mengejar kebebasan finansial atau pensiun nyaman, maka pengorbanan tetap diperlukan.

Selama ini ia kerap merekomendasikan pembagian anggaran 50/30/20, yakni 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan dan investasi.

Namun, bagi mereka yang baru mulai membangun kekayaan di usia 30-an atau 40-an, formula tersebut dinilai belum cukup agresif.

Vivian menyarankan agar porsi tabungan dan investasi ditingkatkan hingga mendekati 40% dari pendapatan, dengan cara memangkas pengeluaran kebutuhan maupun gaya hidup yang tidak terlalu penting.

"Jika Anda dapat meningkatkan tabungan dan investasi mendekati 40% dari pendapatan Anda dengan mengurangi kebutuhan dan keinginan, Anda akan berada dalam kondisi yang jauh lebih baik,” terangnya.

3. Maksimalkan Investasi Jangka Panjang

Untuk persiapan pensiun, Vivian menyarankan agar masyarakat memanfaatkan instrumen investasi yang memberikan keuntungan pajak, seperti Roth IRA bagi warga Amerika Serikat, atau alternatif serupa sesuai aturan yang berlaku.

Ia juga lebih menyarankan investasi pada portofolio yang terdiversifikasi, seperti dana indeks (index fund) dan obligasi, dibandingkan mencoba memilih saham individual yang risikonya lebih tinggi.

Kebiasaan Belanja Sering Menjadi Penghambat

Nah Growthmates, selain strategi investasi, Vivian menilai, salah satu penyebab utama seseorang gagal mencapai tujuan finansial adalah kebiasaan berbelanja berlebihan.

Dalam wawancaranya dengan Associated Press (AP), ia mengatakan bahwa pengeluaran impulsif dapat menghambat pembentukan dana darurat, bahkan berujung pada utang kartu kredit.

Untuk menghindarinya, Vivian memiliki satu pertanyaan sederhana yang selalu ia ajukan sebelum membeli sesuatu.

"Pertanyaan terpenting yang harus Anda tanyakan pada diri sendiri sebelum membeli sesuatu adalah: Apakah saya menginginkannya atau apakah saya ingin orang lain tahu bahwa saya memilikinya?,” paparnya.

Ia pun mengakui pernah melakukan pembelian hanya demi terlihat keren di mata orang lain.

"Ada beberapa kejadian dalam kehidupan pribadi saya di mana saya membeli barang-barang untuk terlihat keren, untuk membuktikan kepada orang lain bahwa saya keren,” sambungnya.

Karena itu, ia menyarankan setiap pembelian dilakukan secara sadar dan benar-benar sesuai kebutuhan maupun nilai yang diinginkan.

Baca Juga: Tak Hanya Jago Investasi, Ini 4 Gaya Hidup Warren Buffett yang Patut Diteladani