Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus berlanjut. Bahkan, rupiah sudah tertekan hingga melewati level yang sempat dikhawatirkan publik, yakni Rp17.845 per dolar AS pada perdagangan Kamis (28/5/2026). Lantas, apa yang membuat tekanan rupiah terus berlanjut?
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menjelaskan bahwa sejumlah langkah sudah dilakukan pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) untuk menyelamatkan rupiah, mulai dari menaikkan suku bunga BI-rate sebesar 50 bps pada Mei 2026 hingga menggelontorkan cadangan devisa secara berkelanjutan. Hanya saja, upaya-upaya tersebut masih belum berhasil untuk menahan tekanan rupiah.
Baca Juga: Kondisi Rupiah Kini vs Krisis 1998 dalam Kacamata Misbakhun: Sangat Beda, Jangan Disalahartikan
“Setelah kenaikan BI-rate itu pelemahan nilai tukar rupiah sempat tertahan, tapi kemudian melemah lagi. Ini menunjukkan bahwa sebetulnya akar permasalahan dari melemahnya nilai tukar rupiah belum diatasi,” tegas Faisal kepada Olenka pada Jumat (29/5/2026).
Faisal menjelaskan, akar permasalahan tersebut tak lain ialah concern masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Dalam hal ini, publik mengharapkan kebijakan pemerintah yang lebih mendukung iklim investasi, baik berupa investasi portofolio maupun direct investment sehingga kepercayaan investor juga meningkat.
“Beberapa concern yang menjadi catatan sejak lama sebetulnya berkaitan dengan efektivitas kebijakan, terutama kaitannya dengan program-program pemerintah, kejelasan arah kebijakan yang tidak berubah-ubah, masalah good governance dalam implementasi program-program pemerintah, serta tata kelola fiskal yang menjadi sorotan agar lebih baik,” tambah Faisal.
Maka dari itu, lanjut Faisal, pemerintah dinilai perlu untuk memperbaiki hal-hal tersebut sehingga pelemahan nilai tukar rupiah dapat diatasi menjadi lebih baik.
“Karena ini semuanya mempengaruhi kepercayaan investor terhadap iklim investasi di Indonesia termasuk juga dalam portofolio yang mempengaruhi nilai tukar rupiah,” tegasnya lagi.