Momentum pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) dan meningkatnya mobilitas nasional menjelang Idulfitri 1447 H dimanfaatkan PT Sarinah untuk mendorong daya beli sekaligus memperkuat positioning sebagai pusat pengalaman budaya.

Salah satu program unggulan tahun ini adalah Happy Hours bertajuk “Malam Berkah Extra” yang digelar pada 6–8 Maret 2026 pukul 20.00–22.00 WIB, dengan penawaran diskon hingga 50 persen di berbagai brand dan tenant.

Direktur Utama PT Sarinah, Raisha Syarfuan, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai strategi konversi berbasis waktu untuk memaksimalkan momentum belanja pada periode puncak THR.

Baca Juga: Dari Bandung ke Sarinah, Langkah Dama Kara Menyapa Pasar Nasional dan Global

“Program ini kami rancang untuk memaksimalkan momentum THR. Satu hingga dua minggu sebelum Lebaran biasanya menjadi periode tertinggi konsumsi masyarakat. Kami ingin menghadirkan stimulus yang relevan dan tepat waktu,” ujar Raisha.

Ia menambahkan, pendekatan berbasis waktu tersebut tidak hanya mendorong transaksi, tetapi juga mengatur ritme kunjungan agar lebih merata, khususnya pada malam hari setelah berbuka puasa.

Namun, Sarinah tidak hanya mengandalkan promosi harga. Tahun ini perusahaan memperkuat aktivasi budaya melalui rangkaian program “Gema Ramadan”.

Baca Juga: Sarinah Ramaikan World Economic Forum 2026 di Davos Lewat 30 Merek Lokal Terkurasi

“Ramadan bagi PT Sarinah adalah momentum untuk mempertegas positioning kami sebagai Cultural Experience Centre. Kami tidak hanya menawarkan promosi, tetapi menghadirkan pengalaman yang terkurasi, mulai dari Malam Berkah Extra sebagai penggerak transaksi hingga Gema Ramadan yang mengangkat tradisi Nusantara,” tegas Raisha.

Rangkaian Gema Ramadan menghadirkan pawai obor dan marawis melalui Gema Lentera Ramadan, pertunjukan Rampak Bedug dalam Gema Bedug Raya, pertunjukan angklung bernuansa Ramadan, hingga kegiatan Ngabuburit di Sarinah yang menjadi ruang kebersamaan lintas komunitas.

Dari sisi visual, Sarinah menghadirkan konsep “Pedesaan Nusantara” yang terinspirasi dari budaya Sumatera Selatan. Instalasi payung bertingkat yang dibalut 50 kain songket Palembang menjadi focal point utama di atrium. Gazebo yang terinspirasi dari Rumah Limas Palembang akan dipasang mulai 9 Maret 2026 dan menjadi titik pembagian takjil gratis bagi pengunjung.

Baca Juga: Mengenal Sosok Raisha Syarfuan, Direktur Utama PT Sarinah (Persero)

Menurut Raisha, pendekatan ini menegaskan bahwa Sarinah ingin menjadi ruang publik yang hidup selama Ramadan.

“Kami ingin setiap kunjungan terasa bermakna. Orang datang bukan hanya untuk membeli, tetapi untuk merasakan suasana, berbagi, dan merayakan tradisi bersama,” katanya.

Sementara itu, Direktur Komersial InJourney Group, Veronica Heni Sicilia, menegaskan bahwa program Ramadan Sarinah menjadi bagian penting dalam integrasi ekosistem pariwisata nasional.

“Momentum Ramadan dan Lebaran adalah periode krusial di mana mobilitas dan konsumsi domestik meningkat signifikan. Sarinah memiliki peran sebagai touchpoint penting dalam perjalanan wisatawan, bukan hanya tempat berbelanja, tetapi ruang interaksi budaya dan gaya hidup,” jelas Veronica.

Ia menambahkan, sebagai holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, InJourney berkomitmen menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih seamless dari bandara, hotel, hingga destinasi dan pusat ritel di bawah pengelolaannya.

Baca Juga: Gaet Gen Z, Sarinah Hadirkan Aktivasi Kekinian Berbasis Budaya

Dengan mengusung tema “Cahaya Penuh Makna, Hangat Untuk Setiap Saat”, Sarinah memadukan strategi diskon agresif dengan aktivasi budaya yang kuat, menjadikan Ramadan 2026 bukan sekadar momentum transaksi, tetapi juga ruang perayaan tradisi dan kebanggaan terhadap karya Indonesia.